BACA JUGA:Hari Guru Nasional 2024, Usung Tema Guru Hebat, Indonesia Kuat
Para siswa harus lebih dulu dibuat mengerti tentang kebutuhan mereka sendiri, terutama untuk memecahkan masalah. Sehingga tumbuh motivasi belajar yang kuat. Mereka pun akan belajar tanpa diperintah.
Kini, kata Sabrang, yang terjadi sebaliknya. Belajar dianggap sebagai sebuah end goal (tujuan akhir, Red), bukan sarana untuk mencapainya. Padahal, end goal setiap manusia berbeda-beda.
End goal yang mereka ingin tuju sekarang justru membuat mereka merasa bahwa belajar bukan menjadi hal yang penting.
Misalnya, banyak anak-anak yang bercita-cita menjadi influencer atau youtuber, lalu merasa bahwa pelajaran di sekolah tidak lagi relevan dengan cita-cita.
Apalagi, cita-cita itu juga dipengaruhi apa yang menjadi viral di media sosial. Maka wajar pula bila anak-anak sekarang lebih antusias berjoget untuk konten media sosial.
Sebetulnya, imbuh Sabrang, hal itu bisa diantisipasi penyelenggara negara. Yakni dengan mengontrol ruang publik di media sosial itu supaya lebih sehat.
Bila tidak bisa menghentikan kekacauan di ruang publik itu, setidaknya negara lewat kebijakan pendidikan bisa mempersiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi teknologi tersebut.
“Kita malah loncat ke digital literacy, menurut saya itu bullshit. Seharusnya kan ada digital safety, digital privacy, dan pemaknaan terhadap gadget,” ungkapnya.
Belum lagi, media sosial itu menggunakan trik dopamin alias hormon “bahagia” di dalam otak.
Ya, secara umum, penyebab kecanduan media sosial adalah dopamin otak yang meningkat yang memberikan rasa bahagia setelah seseorang mengakses media sosial.
Akibatnya, otak mengartikan aktivitas itu sebagai hal menyenangkan yang perlu dilakukan kembali atau berulang-ulang.
Menurut Sabrang, itu yang membuat orang kini tak terlatih dengan dopamin sendiri. Begitu ada notifikasi di gawai, orang langsung tak tahan untuk tak membukanya.
Kemampuan untuk menghadapi teknologi media sosial tersebut yang sebetulnya diperlukan masuk kurikulum, sehingga anak-anak bisa terlatih sejak dini.