Lawatan Tim FISIP Universitas Airlangga ke Jepang (2): Perpustakaan dengan Pemandangan Taman yang Luar Biasa

Senin 09-12-2024,19:33 WIB
Oleh: Febby R.S.-Rahma Sugihartati*

Para pengunjung yang ingin menikmati keindahan Taman Hibiya dari jendela kaca di lantai tiga perpustakaan benar-benar akan terpuaskan. Pada Desember, pohon-pohon yang ada di Taman Hibiya sangatlah indah. Perpaduan antara kuning, merah, dan hijau. Kombinasi warna yang membuat pemandangan Taman Hibiya itu menjadi sangat memesona.

Meja di pinggir ruangan yang langsung menghadap pemandangan Taman Hibiya adalah tempat yang paling populer. Taman Hibiya di Tokyo mencakup area seluas 161.636,66 meter persegi. 

Banyak pengunjung yang sengaja memilih pemandangan keluar dengan lapang lewat jendela kaca itu, karena ketika mereka jeda sejenak setelah membaca atau ingin santai, pilihan yang tepat adalah memanjakan mata dengan melihat keindahan pohon-pohon dan daun-daun yang berguguran sepanjang waktu. 

Ketika tim FISIP terkendala aturan tidak boleh memotret ketika ingin mengambil foto pemandangan pepohonan dari dalam lantai tiga.

Berbeda dengan perpustakaan umum Melbourne atau Singapura yang mengembangkan perpustakaan sebagai ruang publik dan beberapa ruang diskusi, membaca santai bahkan ruang baca anak –perpustakaan umum Hibiya di Tokyo tampaknya dikelola secara kovensional. 

Suasana ruang baca, ketika kami berkunjung, benar-benar hening. Semua sibuk membaca dan menulis. Tidak ada satu pun pengunjung yang tengah bercakap-cakap satu dengan yang lain. Tim FISIP yang berkesempatan masuk ke setiap lantai terpaksa harus mengecilkan suara ketika berbicara. 

Di perpustakaan umum Melbourne dan Singapura, beberapa ruang baca biasanya tampak ramai dan orang bisa bercakap-cakap dengan santai –tanpa harus khawatir pengunjung lainnya terganggu.  

Bagi pengunjung yang ingin membaca dengan tenang dan berdiskusi, perpustakaan menyediakan ruang tersendiri yang kedap suara sehingga tidak menganggu pengunjung lainnya yang membutuhkan konsentrasi.

Di Perpustakaan Hibiya, pengelola tidak menyediakan ruang khusus kepada pengunjung tertentu yang ingin membaca tanpa suara dan untuk diskusi kelompok, misalnya. Semua diperlakukan sama dan seolah yang datang ke perpustakaan memang benar-benar membutuhkan tempat yang tenang untuk membaca dan belajar. 

Ruangan yang luas itu dipenuhi para pengunjung yang datang dan memang ingin membaca, bahkan berkonsentrasi belajar. Suasana terlihat sangat tertib. Pengunjung umumnya datang sendiri-sendiri dan bekerja sendiri-sendiri di mejanya. 

Ada yang tengah belajar dan mengerjakan tugas akademik dengan serius. Ada pula yang bekerja. Sementara itu, ada pula pengunjung dari kelompok lansia yang memanfaatkan perpustakaan untuk membaca koleksi bacaan. Perpustakaan Hibiya tampaknya memang didesain dan dikelola sebagai tempat membaca dan belajar.

RAMAH DIFABEL

Dilihat dari lift yang disediakan, Perpustakaan Hibiya adalah perpustakaan yang ramah kelompok difabel. Para difabel yang ingin berkunjung ke perpustakaan Hibiya tidak perlu harus naik tangga berundak yang cukup tinggi. 

Mereka bisa memanfaatkan fasilitas lift listrik yang bisa mengantar pengunjung yang berkursi roda untuk masuk ke lantai satu hingga empat.

Ketika naik satu per satu dari lantai paling bawah ke lantai atas, tim FISIP Universitas Airlangga bertemu dengan seorang difabel yang naik kursi roda –yang tanpa kesulitan naik ke lantai dua untuk meminjam buku dan membaca di lantai tiga. 

Di sisi lain, kelompok lansia yang sudah tidak kuat lagi naik tangga manual juga bisa memanfaat lift yang disediakan untuk pengunjung. Pendek kata, pengelola perpustakaan benar-benar memfasilitasi kehadiran kelompok difabel –tanpa diskriminasi.

Kategori :