Perekonomian global saat ini berada dalam kondisi ketidakpastian akibat berbagai faktor seperti konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, serta kebijakan moneter ketat di negara maju.
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat. Bahkan diproyeksikan hanya sekitar 3,1 persen pada 2026 akibat meningkatnya risiko geopolitik dan fragmentasi ekonomi dunia.
Dalam konteks ini, Indonesia sebagai negara berkembang dituntut untuk memiliki ketahanan ekonomi yang kuat agar mampu menghadapi tekanan eksternal sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
BACA JUGA: Satu Tahun Ekosistem Bullion Indonesia, Pegadaian Perkuat Peran sebagai Penggerak Ekonomi Nasional
Secara umum kondisi ekonomi Indonesia 2025–2026 diperkirakan ketahanan yang relatif baik dibandingkan banyak negara lain. Beberapa sumber data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11 persen.
IMF memproyeksikan pertumbuhan sekitar 5,0 persen (2025) dan 5,1 persen (2026) (tempo.co); Bank Indonesia memperkirakan kisaran pertumbuhan 4,9–5,7 persen pada 2026.
Inflasi relatif terkendali di kisaran 3–4 persen pada awal 2026 (Bank Indonesia), Bank Dunia mencatat pertumbuhan stabil berkisar 5 persen didorong konsumsi dan investasi (World Bank), kondisi IHSG yang fluktuatif meskipun tidak semua perusahaan berpengaruh terhadap sektor ekonomi riil, dan lain-lain.
BACA JUGA: Prabowo Proyeksikan Papua Jadi Poros Ekonomi Nasional
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan global, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh stabil karena didukung oleh permintaan domestik yang kuat, kebijakan makroekonomi yang relatif kredibel, dan sektor keuangan yang cukup solid.
Namun, demikian kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami fluktuatif yang tinggi. Hal itu dapat menggangu kestabilan ekonomi.
Misalnya, ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar maka produk impor seperti obat-obat pertanian dan lain-lain mengalami kenaikan mengakibat biaya produksi meningkat. Hal itu tentu mengganggu kegiatan pertanian.
BACA JUGA: BRI Genap 130 Tahun: Lahir dari Kas Masjid, Kini Jadi Pilar Ekonomi Nasional
Apabila petani tidak membeli obat tersebut tanamannya tidak tumbuh dengan baik bahkan mati. Potensi arus modal yang masuk dan keluar. Contoh Morgan Sranley Capital International (MSCI).
Saham yang masuk indeks MSCI akan mengalami kenaikan likuiditas dan potensi harga karena aliran dana asing dari manajer investasi global. Hal itu meningkatkan reputasi perusahaan secara global.
Salah satu kebijakan terhadap perusahaan yang masuk Bursa Efek Indonesia, tentang freefloat sebesar 15 persen. Indonesia memang sering dijadikan contoh negara yang cukup bergantung pada ekspor komoditas primer.