BACA JUGA: 22 Massa Positif Narkoba saat Kerusuhan DPR 25 Agustus, Polisi Ungkap Jenis yang Dipakai
Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya. Mengapa teori ini lebih kuat? Karena teori ini bersifat integratif. Teori Relative Deprivation menjelaskan rasa tidak adil. Resource Mobilization menjelaskan organisasi. Networked Protest menjelaskan jaringan digital.
Masing-masing benar. Namun, masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar. Teori Kerusuhan Era Digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren. Ia menjelaskan akar ekonomi yang menciptakan kemarahan.
Ia mengidentifikasi lahirnya kelas rentan digital sebagai aktor baru sejarah. Ia menjelaskan peran media sosial sebagai mesin amplifikasi emosi. Ia membedakan pemicu dari akar masalah.
BACA JUGA: Kerusuhan Pecah Usai Kematian Ojol, DPRD Makassar Dibakar, 4 Orang Tewas
Ia menjelaskan bagaimana provokasi mengubah arah gerakan. Dan yang terpenting, ia menawarkan dimensi normatif berupa kebutuhan membangun kembali kontrak sosial yang rusak.
Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar. Ia tidak hanya menjelaskan siapa yang marah. Ia juga menjelaskan mengapa mereka marah. Ia tidak hanya menjelaskan ledakan.
Ia juga menunjukkan jalan keluar. Dalam rumusan singkat: Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.
BACA JUGA: Kerusuhan Demo di Jakarta, 7 Halte TransJakarta Rusak dan Terbakar
Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.
Sedikit perlu catatan. Ada pula isu lain memperkaya teori ini. Yaitu Digital State Counter-Response. Di era ini, negara tidak pasif; mereka menggunakan cyber troops dan sensor algoritma untuk meredam kerusuhan.
Sebuah teori sosial yang baik bukan hanya mampu menjelaskan masa lalu. Ia juga harus membantu membaca masa depan. Jika lima variabel ini benar, maka kerusuhan digital bukanlah peristiwa yang unik bagi Indonesia.
BACA JUGA: Kerusuhan Demo di Grahadi: Massa Berkostum Hitam Datang tanpa Tuntutan
Ia berpotensi menjadi pola baru abad ke-21, muncul di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu kelas rentan digital dan dipercepat oleh mesin algoritma. Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman.
Ia memperlihatkan bahwa masyarakat telah berubah lebih cepat daripada teori yang selama ini kita gunakan untuk memahaminya. Affan mungkin telah pergi. Namun, kisahnya meninggalkan pertanyaan besar bagi ilmu sosial abad ke-21.
Bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, berkomunikasi melalui jaringan digital, dan bergerak dalam kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya?