BACA JUGA: Jejak Tegak Dwi Hary di Delta Tirta Sidoarjo
Sebelum mengajukan teori baru, kita perlu memahami tiga teori besar yang selama ini menjadi fondasi ilmu sosial. Teori pertama adalah Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr.
Dalam buku Why Men Rebel, Gurr menjelaskan bahwa pemberontakan tidak lahir dari kemiskinan semata. Pemberontakan lahir ketika terdapat jarak antara harapan dan kenyataan.
Ketika rakyat merasa berhak mendapatkan sesuatu tapi gagal memperolehnya, muncullah frustrasi kolektif. Frustrasi ini dapat berubah menjadi kemarahan politik.
BACA JUGA: Tim LNHAM Undang Ahli untuk Usut Kerusuhan Agustus dan September
Teori ini sangat kuat menjelaskan Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga berbagai pemberontakan abad ke-20. Ia membantu kita memahami mengapa masyarakat yang tidak paling miskin justru sering menjadi pelaku protes paling besar.
Namun, teori ini lahir sebelum internet. Ia tidak menjelaskan bagaimana algoritma memperbesar kemarahan. Ia tidak menjelaskan mengapa video 30 detik bisa menjadi pemicu nasional.
Ia tidak mengenal kelas pekerja platform yang hidup di bawah kendali aplikasi digital. Teori ini menjelaskan api, tetapi belum menjelaskan angin digital yang membuat api menyebar ke seluruh negeri.
BACA JUGA: Ucapan Rasis di Kelas Picu Kerusuhan 3 Hari di Yalimo, Kantor Pemerintah dan Rumah Warga Dibakar
Teori kedua adalah Resource Mobilization Theory yang dikembangkan oleh McCarthy dan Zald. Teori ini menyatakan bahwa gerakan sosial berhasil jika memiliki sumber daya yang cukup. Organisasi, dana, kepemimpinan, jaringan, dan kemampuan koordinasi menjadi faktor utama.
Teori ini sangat berpengaruh karena mengubah cara ilmuwan melihat aksi protes. Gerakan sosial tidak lagi dipahami sebagai ledakan emosi semata. Ia dipahami sebagai hasil kerja organisasi yang sistematis. Tetapi teori ini juga memiliki keterbatasan.
Kerusuhan Agustus 2025 menunjukkan bahwa ribuan orang dapat bergerak tanpa organisasi formal. Mereka tidak memiliki kantor pusat. Mereka tidak memiliki ketua umum. Mereka tidak memiliki struktur hierarki yang jelas.
Namun, mereka tetap mampu bergerak secara serentak. Dalam dunia digital, jaringan sering kali lebih kuat daripada organisasi. Solidaritas dapat lahir dari grup Telegram, komunitas daring, atau sebuah tagar yang viral.
Di sini teori mobilisasi sumber daya mulai kehilangan daya jelaskannya. Teori ketiga adalah Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan oleh Manuel Castells dan Zeynep Tufekci. Teori ini paling dekat dengan realitas abad ke-21.
Castells menunjukkan bagaimana internet menciptakan jaringan kemarahan dan harapan. Tufekci menjelaskan bagaimana media sosial memungkinkan mobilisasi cepat dalam skala besar.