Transformasi Ekonomi ala Prabowonomics: Solusi atau Delusi?

Selasa 01-04-2025,22:27 WIB
Oleh: Sukarijanto*

BACA JUGA:Prabowo Akan Perbaiki Komunikasi Pemerintah dengan Rakyat, Banyak Program Tak Tersampaikan Secara Sempurna

Tak dapat dinafikan, selain faktor domestik yang berkontribusi bagi pemulihan kondisi ekonomi, situasi global saat itu juga memegang peran penting. 

Perekonomian global dan kondisi ekonomi negara-negara besar di kawasan Eropa dan Amerika Utara juga masih berjuang mengatasi ekonomi domestik mereka yang melambat pertumbuhan ekonominya. 

Realitas itu sedikit banyak memengaruhi perlambatan pemulihan kondisi ekonomi Jepang.

Pilar terakhir abenomics adalah reformasi struktural, yang sering disebut sebagai ”third arrow”. Gebrakan itu berfokus pada upaya mengatasi kendala struktural dalam perekonomian Jepang seperti birokrasi yang kaku, pasar tenaga kerja yang terbatas, dan regulasi bisnis yang berbelit-belit. 

BACA JUGA:Prabowo Sebut Program Cek Kesehatan Gratis Terobosan Indonesia: Negara Lain Tidak Punya

BACA JUGA:Prabowo Pimpin Sidang Kabinet Paripurna: Pangan Adalah yang Paling Utama

Dengan melakukan reformasi itu, sektor bisnis akan lebih efisien, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Terbukti, berkat kebijakan abenomics, Jepang berhasil mempercepat pertumbuhan ekonominya. Dampak positif lainnya, tingkat pengangguran Jepang menurun dari 4 persen pada 2012 menjadi 3,7 persen pada 2013.

MEREVISI KEGAGALAN HISTORIS

Pasca dilantik sebagai presiden menggantikan Joko Widodo, pada 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto menggaungkan kebijakan ekonominya yang dikenal dengan prabowonomics. 

Secara fundamental, gagasan transformasi ekonomi itu tidak berbeda dengan abenomics yang memfokuskan pembangunan ekonomi berkarakteristik berbasis pada aspek competitive advantage negara yang bersangkutan, yaitu pada transformasi ekonomi ke arah penguatan industri manufaktur dan hi-tech

Dengan demikian, prabowonomics berorientasi pada penguatan kedaulatan pangan, energi, dan peningkatan daya saing industri nasional sebagaimana yang tertuang di dalam Astacita Prabowo-Gibran. 

Prabowonomics adalah konsep ekonomi yang didasarkan pada filosofi ekonomi Pancasila. Dalam pandangan Prabowo, sistem ekonomi yang ideal adalah kombinasi antara ekonomi terencana (planned economy) dan elemen-elemen positif dari ekonomi liberal. 

Pendekatan itu dapat dilihat dalam kebijakan-kebijakan awal yang dirancang Prabowo seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didanai dengan pemangkasan anggaran di sektor lain.

Melalui kebijakan itu, sekaligus ditargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan penghapusan kemiskinan ekstrem dengan fokus pada investasi yang akseleratif, memacu ekspor, serta pengembangan sektor-sektor strategis seperti pertanian, manufaktur, dan teknologi melalui hilirisasi, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), serta penguatan sektor industri substitusi impor. 

Kondisi geopolitik global, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang AS versus Tiongkok, ancaman pandemi baru, disrupsi kecerdasan buatan, dan beberapa faktor eksternal lainnya akan menjadi tantangan terciptanya kemandirian ekonomi di segala sektor.

Kategori :