Transformasi Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045: Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Selasa 21-10-2025,20:40 WIB
Oleh: Mohammad Ghofirin*

BACA JUGA:6 Film Bertema Kehidupan Santri, Tontonan Spesial untuk Hari Santri Nasional 22 Oktober

Kelima rukun tersebut adalah kiai (pengasuh), santri (murid), masjid, asrama (pondok), dan pengajian kitab kuning (dhirosah Islamiyah). Lima hal itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. 

Dalam kultur pesantren, kiai menempati posisi sentral sebagai pengasuh, pengajar, sekaligus penentu arah nilai lembaga. Jika pada masa lalu otoritas kiai bersandar pada karisma dan kedalaman spiritual, kini kiai diharapkan menjadi pemimpin visioner yang berpikir strategis, inovatif, dan berorientasi masa depan. 

Kiai transformatif adalah sosok pemimpin pesantren yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan memimpin proses transformasi sosial, pendidikan, dan ekonomi di lingkungan pesantren.

BACA JUGA:5 Tradisi Memperingati Hari Santri Nasional 2025 di Indonesia

BACA JUGA:Semangat Baru Hari Santri 2025: Mengupas Sejarah, Tema, dan Maknanya

Santri identik dengan sosok yang tekun mengaji kitab kuning di bawah bimbingan kiai. Fokus utama santri adalah tafaqquh fiddin, mendalami ilmu agama sebagai bekal untuk berdakwah, menjadi guru ngaji, atau kiai. 

Kini paradigma tersebut meluas, santri tidak hanya dituntut untuk memahami ilmu agama, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Santri transformatif bukan sekadar peserta didik yang belajar agama, melainkan juga santri yang mampu menjadi agen perubahan sosial, pelaku inovasi, dan aktor peningkatan kesejahteraan masyarakat. Santri dituntut menguasai sains, teknologi, ekonomi, sosial, hingga politik. 

BACA JUGA:Hari Santri 2025 Jadi Momentum Refleksi Satu Dekade Perjuangan Santri

BACA JUGA:Wamenag Optimistis Izin Pembentukan Ditjen Pesantren Terbit Sebelum Hari Santri

Santri tidak lagi hanya berdakwah di mimbar dan masjid, tetapi juga berkiprah di kampus, pemerintahan, dunia usaha, hingga ruang digital. Santri transformatif hadir sebagai santri profesional, santri akademik, dan santripreneur yang berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. 

Asrama merupakan salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan pesantren. Di tempat itulah santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga menjalani proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian. 

Jika pada masa lalu asrama hanya dipandang sebagai tempat tinggal sederhana bagi para santri, kini asrama telah bertransformasi menjadi ruang pendidikan integral dan pusat pembentukan ekosistem belajar yang modern, kolaboratif, dan berdaya.

Bangunan asrama pesantren tradisional umumnya sederhana dan berisi banyak santri dalam satu ruangan. Kesederhanaan itu dianggap sebagai ciri khas dan sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang qana’ah (merasa cukup), gotong royong, dan ukhuwah. 

Kini asrama pesantren mengalami transformasi desain dan fungsi. Bangunan asrama dirancang lebih layak, sehat, dan ramah belajar dengan konstruksi bangunan yang kokoh dan aman, tahan cuaca, serta bebas dari risiko runtuh. 

Kategori :