HARIAN DISWAY - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta merilis pembaruan kondisi cuaca terkait sistem Tropical Depression eks-Siklon Tropis Senyar yang saat ini kembali menunjukkan potensi penguatan.
Eks-Siklon Tropis Senyar merupakan sisa-sisa sistem badai Senyar yang pada awal pekan ini memicu cuaca ekstrem dan rentetan bencana banjir di Sumatera Barat, Utara, dan Aceh. Senyar dinyatakan punah pada Kamis 27 November lalu. Namun, sistem tekanan rendah (Low)-nya masih bertahan hingga saat ini bahkan berpotensi menguat kembali menuju kategori 1.
Berdasarkan pemutakhiran data per 29 November 2025 pukul 13.00 WIB, pusat sistem Ex Senyar berada di Laut Cina Selatan sebelah barat laut Terempa, pada posisi sekitar 5.1°LU dan 105.3°BT dengan kecepatan angin maksimum 30 knot (55 km/jam) dan tekanan udara minimum 1006 hPa.
BMKG menyebutkan bahwa dalam 6–12 jam ke depan, eks-Siklon Tropis Senyar diprediksi kembali menguat dengan kecepatan angin yang dapat mencapai 35 knot (65 km/jam). Sistem ini bergerak ke arah timur laut–timur menuju Laut Cina Selatan di sekitar 5.7°LU 107.0°BT, sehingga berpeluang meningkat menjadi siklon tropis kategori 1.
BACA JUGA:BNPB Gelar OMC Serentak di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Siklon Tropis Senyar Bisa Bangkit Lagi
Dalam 24 jam ke depan, intensitasnya diperkirakan relatif stabil, sementara dalam 48 jam sistem diprediksi berada di sekitar posisi 9.7°LU 110.4°BT. Secara keseluruhan, peluang sistem ini berkembang kembali menjadi siklon tropis dalam 12 jam mendatang dinilai kategori tinggi.
Dampak cuaca ekstrem dari eks-Siklon Tropis Senyar juga mulai dirasakan di wilayah Indonesia, terutama Sumatera bagian tengah dan utara. Dalam 24 jam ke depan, BMKG menegaskan adanya potensi hujan sedang hingga sangat lebat yang melanda beberapa daerah.
Pengungsian warga di Kabupaten Solok, Sumatera Utara. Data BNPB menunjukkan 13 Kabupaten/Kota terdampak di Sumut -BPBD Kabupaten Solok -
Wilayah yang diproyeksikan mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem meliputi Kepulauan Riau, sementara hujan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Sumatra Barat, Jambi, dan Riau. Selain hujan, Kepulauan Riau juga berpotensi terdampak angin kencang akibat pengaruh sistem cuaca tersebut.
Dampak di wilayah perairan juga signifikan. BMKG mencatat potensi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter (moderate sea) di sejumlah wilayah seperti Perairan Bintan–Lingga, Selat Karimata bagian utara, Laut Natuna, Perairan Selatan Kepulauan Anambas, serta Perairan Kepulauan Natuna–Anambas.
BACA JUGA:Update Banjir Bandang Sumatera: 174 Korban Meninggal, 79 Orang Hilang, Akses Jalan Terputus
Sementara itu, gelombang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4,0 meter (rough sea), berpeluang terjadi di perairan utara Kepulauan Anambas.
Citra Satelit Himawari menggambarkan posisi Ex- Siklon Tropis Senyar dan pertumbuhan awan yang masih tinggi di sekitarnya -BNPB-
Sistem cuaca lain, yaitu TC KOTO, juga terpantau berada di sekitar Laut Cina Selatan bagian utara. Meski pusatnya tidak berada dekat Indonesia, pola sebaran awan pada citra satelit menunjukkan kedua sistem turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan awan hujan di wilayah barat Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak, terutama Sumatra Barat, Jambi, dan Riau, untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk risiko banjir, genangan, longsor, serta gangguan transportasi darat dan laut. Peringatan dini akan terus diperbarui sesuai perkembangan dinamika atmosfer dalam beberapa jam ke depan.(*)