Ekosistem kewirausahaan terdiri atas berbagai elemen yang bekerja secara sinergis untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bisnis.
Pertama, akses ke sumber daya modal dan pembiayaan modal adalah salah satu elemen utama dalam ekosistem kewirausahaan. Akses yang mudah ke modal dan pembiayaan yang sesuai merupakan kunci untuk membantu UMKM memulai dan mengembangkan usaha mereka.
Itu mencakup akses ke berbagai sumber modal seperti pinjaman bank, modal ventura, crowdfunding, dan pembiayaan mikro. Demikian pula di daerah, akses ke modal sering kali terbatas karena kurangnya lembaga keuangan atau minimnya jaringan dan jangkauan para pemilik modal.
Dengan demikian, penting untuk mengembangkan sistem pembiayaan yang inklusif, yang mencakup kemudahan dalam mendapatkan kredit dan pengembangan produk keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Kedua, infrastruktur fisik dan digital. Infrastruktur fisik seperti jalan, fasilitas transportasi, dan ruang kerja bersama serta infrastruktur digital, seperti akses internet yang andal dan terjangkau serta platform e-commerce, sangat penting untuk mendukung kegiatan bisnis di daerah.
Infrastruktur yang memadai membantu UMKM meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan akses ke informasi.
Infrastruktur digital yang kuat, termasuk akses internet berkecepatan tinggi, sangat penting untuk membantu UMKM memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran, penjualan, dan manajemen bisnis.
Di era digital saat ini, infrastruktur digital yang baik dapat menjadi pembeda utama dalam menciptakan ekosistem kewirausahaan yang efektif.
Ketiga, aspek edukasi dan pelatihan kewirausahaan. Pelatihan kewirausahaan dan pendidikan bisnis memainkan peran penting dalam meningkatkan kapasitas wirausahawan. Di daerah, rendahnya tingkat literasi kewirausahaan sering kali menjadi hambatan utama dalam mengembangkan UMKM yang berkelanjutan.
Karena itu, pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan keterampilan manajerial, teknis, dan literasi digital wirausahawan lokal. Inkubator bisnis, universitas, sekolah vokasi, dan lembaga pelatihan memiliki peran penting dalam menyediakan pelatihan yang relevan dan berkualitas bagi UMKM.
Pelatihan itu harus mencakup berbagai aspek. Mulai perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, hingga penggunaan teknologi baru dalam bisnis.
Pemerintah juga bisa mengoptimalkan peran perguruan tinggi sebagai institusi strategis mengembangkan kapasitas pelaku UMKM serta program kewirausahaan. Perguruan tinggi harus aktif mengoperasionalkan lembaga inkubatornya untuk mendukung peningkatan kapasitas SDM UMKM maupun kewirausahaan (Indra M. Yusuf, 2012).
Secara teori akademis, perguruan tinggi diyakini memiliki keunggulan melakukan fungsinya meningkatkan berbagai sisi keperluan UMKM. Misalnya, kapasitas SDM, bimbingan teknis, membangun spirit entrepreneur, hingga permodalan.
Hal itu sejalan dengan hasil riset Yohnson (2003) yang meneliti tentang peran universitas dalam memotivasi sarjana menjadi young entrepreneur. Disimpulkan bahwa peran universitas dalam memotivasi sarjana menjadi wirausaha muda sangat penting sehingga akan mengurangi pertambahan jumlah pengangguran dan mampu menambah jumlah lapangan pekerjaan.
Upaya yang bisa dilakukan, antara lain, adalah memberikan pendidikan kewirausahaan dan memberikan wadah bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmunya dengan mendirikan bisnis kecil di lokasi kampus.
Keempat, faktor jaringan dan kolaborasi. Ekosistem kewirausahaan yang kuat dibangun melalui kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan komunitas lokal.