Museum Tembakau Jember: Menolak Menjadi Monumen Bisu 'Daun Emas'

Minggu 30-11-2025,23:29 WIB
Oleh: Teddy Afriansyah*

Narasi tentang kualitas tembakau Besuki na-oogst yang melegenda harus digaungkan kembali dengan cara yang relevan dengan konteks kekinian. Bukan sebagai glorifikasi masa lalu semata, melainkan sebagai bukti ketangguhan varietas lokal yang mampu menembus standar kualitas internasional. 

Hal tersebut dapat membangkitkan kebanggaan kolektif warga Jember terhadap identitas daerahnya.

Selain itu, museum perlu menjadi pusat riset terbuka. Undang peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk membedah aspek sosiologis, antropologis, hingga ekonomis dari tembakau. 

Jadikan tempat tersebut sebagai ”makkah” kecil bagi siapa saja yang ingin mendalami studi agraria. Ketika museum menjadi rujukan ilmu pengetahuan, posisinya akan jauh lebih bermartabat jika dibandingkan dengan sekadar objek wisata foto semata.

MENGHIDUPKAN JIWA ”DAUN EMAS”

Tantangan terbesar sekarang adalah melawan stigma bahwa museum merupakan tempat membosankan. Padahal, di dalamnya tersimpan jiwa dari sebuah kota. 

Tembakau bagi Jember merupakan identitas yang tidak terpisahkan, seperti darah yang mengalir dalam nadi sejarah kota. Membiarkan museumnya sepi sama saja dengan membiarkan identitas tersebut perlahan pudar dan mati.

Perlu kolaborasi sinergis antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, dan komunitas kreatif. Museum harus menjadi ruang publik yang inklusif. Halaman museum bisa dimanfaatkan untuk panggung apresiasi seni, diskusi buku, dan pasar produk kreatif bertema tembakau. 

Buatlah masyarakat merasa memiliki tempat tersebut. Hapus jarak yang selama ini membentang antara institusi museum dan warga sekitar.

Pada akhirnya, Museum Tembakau Jember memiliki pilihan. Tetap diam dalam kebisuan sebagai gudang artefak atau bangkit bersuara sebagai pusat peradaban yang dinamis. 

Sejarah ”daun emas” terlalu berharga untuk dibiarkan tertidur lelap di balik lemari kaca. Warisan tersebut harus terus hidup, relevan, dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan Jember di masa depan. 

Waktunya pemerintah untuk berbenah demi masa depan, yaitu sekarang. Jangan biarkan kebanggaan yang terjadi hanya menjadi cerita pengantar tidur yang sayup-sayup menghilang ditelan zaman.

Sudah saatnya museum tersebut bertransformasi menjadi entitas yang bernapas. Entitas yang mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan akar tradisinya. 

Dengan sentuhan inovasi teknologi, manajemen yang lebih fleksibel, dan visi pengembangan produk turunan yang visioner, harapan tersebut sangat mungkin terwujud. 

Mari jadikan museum tersebut sebagai mercusuar yang memancarkan cahaya kebanggaan, bukan sekadar lilin redup yang menanti padam tertiup angin. Jember berhak memiliki museum yang setara dengan reputasi emas tembakaunya di mata dunia. (*)

*) Teddy Afriansyah adalah mahasiswa magister kajian sastra dan budaya, Universitas Airlangga.

Kategori :