Museum Tembakau Jember: Menolak Menjadi Monumen Bisu 'Daun Emas'

Minggu 30-11-2025,23:29 WIB
Oleh: Teddy Afriansyah*

AROMA khas yang menyergap indra penciuman saat kaki melangkah masuk ke sebuah bangunan unik di Jalan Kalimantan. Wangi tembakau kering yang berpadu dengan nuansa kayu tua menciptakan atmosfer magis. Jember memang bukan sekadar nama kota di peta Jawa Timur. 

Daerah tersebut merupakan jantung yang berdenyut karena aliran ”daun emas”. Sejarah mencatat bagaimana komoditas tersebut pernah mengangkat derajat ekonomi sekaligus sosial masyarakat setempat hingga ke level dunia.

Saksi bisu kejayaan masa lalu tersebut sudah berdiri tegak dalam wujud Museum Tembakau. Sebuah etalase yang seharusnya mampu berbicara lantang tentang peradaban agraris. Namun, tantangan besar justru menghadang di depan mata. 

BACA JUGA:Museum Megalitikum Bondowoso: Magnet Sejarah Internasional

BACA JUGA:Museum, Jembatan Masa Lalu dan Masa Kini: Refleksi Hari Museum Nasional 12 Oktober

Risiko menjadi sekadar gudang penyimpanan barang antik sangat nyata jika tidak ada terobosan radikal dalam pengelolaannya. Publik tentu tidak menginginkan tempat penuh nilai sejarah tersebut berakhir menjadi monumen bisu yang sepi pengunjung.

IRONI PINTU TERKUNCI

Sebuah paradoks menggelitik sering terjadi di destinasi wisata yang dikelola dengan pola pikir birokratis murni. Saat calon pengunjung memiliki waktu luang di akhir pekan, pintu museum justru terkunci rapat. 

Padahal, logika pariwisata modern menuntut ketersediaan akses saat hari libur. Pengelolaan waktu operasional yang kaku seolah mengirim pesan tersirat bahwa museum tersebut hanyalah kantor dinas biasa, bukan destinasi wisata edukasi.

BACA JUGA:Museum dan Gen Alpha

BACA JUGA:Edukasi Budaya Militer di Museum Pusat TNI Angkatan Laut (TNI-AL)

Kondisi tersebut tentu sangat disayangkan. Banyak wisatawan luar kota atau bahkan warga lokal yang hanya bisa berkunjung saat Sabtu atau Minggu. 

Ketika pintu tertutup, kesempatan untuk menularkan pengetahuan tentang sejarah ”daun emas” pun hilang seketika. Museum lantas berubah menjadi gedung sunyi yang hanya dinikmati penjaganya sendiri. Perlu ada revolusi pola pikir dalam manajemen waktu kunjungan.

MELAMPAUI SEKADAR ETALASE

Zaman sudah berubah drastis. Generasi masa kini menuntut pengalaman yang imersif. Museum harus bertransformasi dari sekadar ruang pamer menjadi panggung pertunjukan sejarah. 

Kategori :