Politik Warna 'Pink' Seorang Bupati Jember
ILUSTRASI Politik Warna 'Pink' Seorang Bupati Jember.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DULU ”politik warna” sempat populer. Terutama saat Golkar berkuasa. Tembok diwarna kuning, gedung warna kuning. Bahkan, kantor-kantor dan pagar-pagar di desa didominasi kuning adalah hal biasa.
Kemudian era berubah. Warna merah sempat dominan. Dimulai lahirnya posko-posko merah milik PDIP, lanjut kantor, pagar, bahkan dominasi bendera merah sempat merajalela. Sampai seorang anak kelas II SD Surabaya saat berlibur di Yogyakarta bertanya kepada ayahnya.
”Yogya ini kan Indonesia, Yah! Kenapa benderanya merah? Bukan merah putih?” tanya sang anak dengan lugu tapi kritis, khas anak gen Z.
BACA JUGA:Nggak Harus Pink! 5 Cara Tampil Feminin dengan Palet Warna Netral
BACA JUGA:Kanker Payudara: Pita Pink, Beban, dan Harapan
Perang warna bendera partai sempat terjadi sepuluh tahun lalu. Namun, karena makin banyaknya partai dan warna yang saling menyerupai, perang warna bendera partai makin hilang seiring tipisnya ideologi partai.
AI mendeskripsikan: warna partai politik sering kali mencerminkan ideologinya (merah untuk kiri/sosialis, biru untuk konservatif, kuning untuk liberalisme, hijau untuk lingkungan), meskipun maknanya bisa berbeda di setiap negara (misalnya, merah untuk Republik di AS).
Warna itu menjadi alat pencitraan, membantu pemilih mengenali partai (terutama yang tidak bisa membaca), dan bisa menjadi simbol aliansi (seperti koalisi ”lampu lalu lintas” atau ”merah-hijau”).
BACA JUGA:Alasan Perempuan Menyukai Warna Pink: Sejarah, Faktor Psikologis dan Biologis
BACA JUGA:5 Ide Mix and Match Outfit Hijau dan Pink yang Stylish dan Playful
Di Indonesia, warna partai sering diasosiasikan dengan identitas seperti PKB (hijau, warna sejuk), Golkar (kuning), Nasdem (biru tua), dan Demokrat (biru, nasionalis-religius), PDIP (merah, nasional).
UNIK, TAPI ANEH
Bupati atau wali kota dulu juga punya kebijakan sesuai partainya. Namun, ketika koalisi makin dominan, identifikasi diri dengan warna sudah tidak berlaku.
Saat liburan akhir tahun 2025, di Jember, penulis menyaksikan ada ”politik warna” yang lain. Bukan merah marun dan kuning (bendera Gerindra) partai bupati, melainkan warna pink simbol cinta. Tidak enak dipandang mata saat masif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: