”Kerusakan alam di Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua, itu semua akan mengikuti. Jadi ini mendesak. Harus ada satu perubahan,” tegasnya.
Menurut Farid, akar masalah ada pada politik yang rusak. Politik berbicara tentang bagaimana kebijakan publik dirumuskan hingga diputuskan. Saat ini, lanjut Farid, perlu perubahan sistem politik. Di samping itu, harus pula ada reformasi serius di tubuh TNI-Polri.
”Karena hukum juga rusak banget. Setelah Kanjuruhan seharusnya ada reformasi kepolisian, tapi sampai sekarang pemerintah seperti enggan,” bebernya.
Meski begitu, Farid optimistis generasi muda bisa mendorong perubahan tersebut. Ia menyebut, anak-anak muda punya kepedulian yang cukup besar untuk memahami isu politik, kerusakan alam, dan hukum di Indonesia.
Salah satu peserta Bedah Buku Reset Indonesia di Pos Bloc Surabaya membaca buku secara langsung di lokasi acara sambil mengikuti jalannya diskusi, Sabtu, 27 Desember 2025-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway
BACA JUGA:Dirty Vote, Film Dokumenter tentang Dugaan Kecurangan Pemilu 2024 Karya Dandhy Dwi Laksono
BACA JUGA:Dandhy Laksono dan 3 Pakar Hukum di Dirty Vote Dilaporkan Polisi, Tuduhan Apa?
Reza Pahlevi, salah satu peserta diskusi buku asal Surabaya, mengatakan bahwa buku Reset Indonesia penting untuk dibaca generasi muda seperti dirinya. Buku itu ditulis untuk mengajak masyarakat membaca ulang kondisi bangsa.
Reza percaya, melalui pemahaman yang jujur dan kritis, anak muda bisa menjadi bagian dari perubahan. Buku Reset Indonesia menjadi pengingat bahwa membangun ulang Indonesia harus dimulai dari kesadaran setiap individu.
”Saya merasa terharu dan merinding melihat perjuangan empat penulis dalam melakukan investigasi. Di akhir acara pun saya mendapatkan insight baru bahwa masyarakat di Surabaya pun cukup kritis. Sehingga tumbuh kesadaran pemikiran baru dari diri saya,” kata Reza. (*)
*) Peserta Magang Kemnaker RI