Manus juga memastikan bahwa layanan berlangganan mereka akan tetap berjalan secara mandiri.
Platform itu akan terus menjual dan mengoperasikan produknya melalui aplikasi serta situs web resmi Manus, meski kini berada di bawah payung Meta.
BACA JUGA:Meta Connect 2025, Ray-Ban Display dan Oakley Vanguard Bawa Era Baru Kacamata Pintar
BACA JUGA:Facebook Jadi Sorotan, Minta Akses Media Pribadi di Kamera Pengguna untuk Fitur AI Meta
Pertumbuhan Manus dalam setahun terakhir tergolong sangat pesat. Awal bulan ini, perusahaan mengumumkan telah melampaui pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue/ARR) sebesar USD100 juta, hanya delapan bulan setelah resmi diluncurkan.
Capaian tersebut menjadikan Manus salah satu startup AI dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia.
Sejumlah investor besar sebelumnya turut menanamkan modal di Manus. Di antaranya adalah Tencent Holdings, ZhenFund, dan HSG.
Platform itu awalnya dikembangkan oleh perusahaan bernama Butterfly Effect, yang juga dikenal dengan nama monica.im.
BACA JUGA:Kunjungi Kantor Meta dan Google di California, Puan Apresiasi Dukungan Buat RI Perangi Judol
BACA JUGA:Meta Tegaskan Komitmen Lawan Eksploitasi Seksual Anak Usai Temuan Grup Fantasi Sedarah di Facebook
Perusahaan tersebut didirikan di Tiongkok. Sebelum akhirnya memindahkan basis operasionalnya ke Singapura.
Logo Meta. --Meta.com
Isu kepemilikan dan keterkaitan dengan Tiongkok menjadi perhatian tersendiri. Terutama di tengah meningkatnya sensitivitas geopolitik dan regulasi teknologi.
Menanggapi hal itu, juru bicara Meta menegaskan bahwa tidak akan ada kepemilikan Tiongkok yang berlanjut dalam Manus AI setelah transaksi rampung. Pun, Manus juga akan menghentikan seluruh layanan dan operasionalnya di Tiongkok.
Manus kembali menegaskan bahwa Singapura akan tetap menjadi pusat utama operasional perusahaan, seiring dengan sebagian besar karyawan mereka yang berbasis di negara tersebut.
BACA JUGA:Cara Gunakan Meta AI di WhatsApp untuk Meningkatkan Keamanan dan Efisiensi Komunikasi