BACA JUGA:Belasan Anak Muda Pesta Miras di Warkop Sekitar Jembatan Suramadu, 26 Pramusaji Diamankan
Dilanjut: ”Terus, Verind bertanya ke pelaku, apakah di antara mereka ada masalah? Mungkin masalah lama mereka. Terus mereka cekcok. Ternyata pelaku waktu itu sudah bawa pisau lipat. Terus ditusukkan ke Verind, kena pinggang dan leher.”
Kejadian itu disaksikan belasan remaja, termasuk cewek pacar korban. Tidak ada yang melerai pelaku dan korban.
Kemudian, pelaku kabur dan membuang pisau ke selokan tak jauh dari TKP pembunuhan. Pisau sudah diamankan polisi. Kata polisi, pisau itu dibeli pelaku lewat online beberapa hari sebelum kejadian.
Ayah korban, Dwi Wibowo, 42, kepada wartawan, mengatakan, korban Verind anak bungsu dari dua bersaudara. Ia baru lulus SMA. Ia meninggalkan rumah Rabu sore, 31 Desember 2025, untuk berkumpul dengan teman-teman.
BACA JUGA:Belasan Pemuda Pesta Miras Diciduk, Ada yang Berlokasi di Taman Bambu Runcing
BACA JUGA:Duh! Dua Remaja Putri Pesta Miras saat Ramadan, Diciduk Satpol PP Surabaya
Dwi: ”Saya dikabari polisi (pembunuhan Verind, Red) pada dini hari. Saya minta polisi menindak tegas pelaku. Biar kejadian semacam ini tak terulang.”
Orang mabuk miras memang biang problem. Otak pemabuk tidak dapat berpikir normal. Karena itu, apa pun bisa ia lakukan.
Dikutip dari Johns Hopkins, Bloomberg School of Pulic Health, 5 Juli 2023, berjudul New Policy Recommendations Aim to Address the Intersection of Alcohol Use and Gun Violence, mengungkap hal itu.
Artikel itu berupa wawancara antara presenter Public Health on Call Lindsay Smith Rogers dan dua pakar psikologi Amerika Serikat (AS), Joshua Horwitz J.D. dan Silvia Villarreal M.P.P. Dua pakar itu peneliti Center for Gun Violence Solutions di Bloomberg School.
BACA JUGA:Tambaksari Darurat Perang Sarung dan Pesta Miras: Polsek Amankan 65 Remaja
Bahwa pemabuk yang pegang senjata api (di AS) bisa membahayakan publik, tidak perlu diteliti lagi. Sudah banyak pemabuk bersenjata api yang membunuh orang. Dua pakar itu bicara hasil riset tentang bagaimana cara mencegah tindak kekerasan terkait pemabuk?
Rogers: Bisakah Anda jelaskan konsep pendekatan berbasis risiko untuk mengurangi kekerasan bersenjata?
Horwitz: Pendekatan berbasis risiko adalah ketika Anda mengidentifikasi faktor risiko untuk membahayakan diri sendiri dan orang lain, mengukurnya sebaik-baiknya, dan kemudian memasukkannya ke kebijakan yang adil.
Pencegahan kekerasan senjata api telah lama ada. Namun, kurang selektif, siapa yang memiliki akses ke senjata api.