Mengoyak Adab dan Konstitusi Nahdlatul Ulama

Jumat 02-01-2026,11:32 WIB
Oleh: Sinful Bahri

Rasanya Damai, Rasanya Masalah Selesai

Tapi sejarah manusia—dan sejarah organisasi ini—kerap kali adalah sejarah tentang pengkhianatan. Seperti yang saya tulis dalam esai sebelumnya, berjudul “Di Antara Tinta dan Kata”, belum lagi hilang hangat jabat tangan ketika kepercayaan itu dicederai kembali. Gus Yahya, sekali lagi, memilih jalan memutar, menelikung kesepakatan yang dibuat, di hadapan para kiai sepuh.

Pada akhirnya, Lirboyo di bulan Desember itu mengajarkan kita satu hal pahit: bahwa dalam perebutan kuasa, adab seringkali menjadi korban pertama yang jatuh. Dan rais Aam, dengan sikap mengalahnya di forum itu, mungkin menyadari bahwa menjadi benar dan prosedural saja tidak cukup untuk melawan arus besar yang menghalalkan segala cara.

Kita merindukan NU yang teduh. Tapi hari ini, keteduhan telah terusir dari ruang rapat, menunggu di luar pintu, menggigil kedinginan.

) Esais Nahdliyin Tinggal di Madura

Kategori :