MENINGKATNYA konflik antara Thailand dan Kamboja serta Amerika Serikat dan Venezuela menjadi dua peristiwa yang mewarnai peralihan tahun 2025 ke 2026. Dua peristiwa itu memiliki kesamaan. Yakni, penggunaan serangan udara secara cukup masif untuk melumpuhkan aset-aset strategis musuh.
Di sisi lain, kedua negara yang menjadi target serangan –Kamboja dan Venezuela– ternyata tidak memberikan respons untuk mempertahankan diri dari serangan tersebut.
Kedua peristiwa itu seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk membangun sistem pertahanan udara yang tidak hanya kuat, tetapi juga adaptif dan terintegrasi.
BACA JUGA:Pesawat A400M Perkuat Pertahanan Udara RI, Prabowo akan Negosiasi Empat Unit Lagi
BACA JUGA:Mengenal Peranan Kohanudnas, Ini Sejarah Hari Komando Pertahanan Udara Nasional
Sistem pertahanan udara (sishanud) berbasis peluru kendali makin marak digunakan dalam dekade terakhir.
Dalam perang asimetris, kala suatu negara menghadapi musuh berkekuatan jauh lebih besar, peran sishanud menjadi sangat vital karena memiliki kemampuan menghancurkan target udara bernilai tinggi dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Sebagai perbandingan, sebuah jet tempur terkini dapat bernilai puluhan kali lebih mahal jika dibandingkan dengan rudal antipesawat yang dapat menembaknya jatuh.
Dalam sebulan terakhir, konflik Thailand-Kamboja dan AS-Venezuela diwarnai sejumlah episode serangan udara yang cukup signifikan. Tanggal 8 hingga 11 Desember 2025, Angkatan Udara (AU) Thailand mengebom aset-aset militer dan ekonomi Kamboja.
BACA JUGA:Temui Prabowo, KSAU Ingin Pertahanan Udara Diperkuat
Adapun militer AS melakukan penyerbuan melalui udara menuju wilayah ibu kota Venezuela, Karakas, dan membombardir sejumlah pangkalan udara dan markas militer di kota tersebut.
Memang, terdapat banyak analisis mengenai penyebab kegagalan respons pertahanan udara kedua negara terhadap serangan musuh. Analisis tersebut mencakup loyalitas militer kepada pemerintah yang minim, rendahnya moral tempur prajurit, hingga dugaan penyusupan intelijen ke dalam induk militer kedua negara.
Namun, permasalahan yang lebih teknis, seperti aspek pertahanan udara kedua negara, juga tidak kalah penting. Mengingat, komponen pertahanan tersebut seharusnya menjadi perespons pertama serangan musuh melalui udara.
Kedua negara memang memiliki sishanud yang berguna untuk peperangan asimetris. Kamboja mengoperasikan peluncur rudal panggul QW-3 dan rudal jarak menengah KS-1C. Sementara itu, pertahanan udara Venezuela lebih lengkap.
Karakas mengoperasikan peluncur rudal jarak pendek Mistral, rudal jarak menengah Buk, serta rudal jarak jauh S-300. Akan tetapi, masalah kuantitas, pemerataan, dan integrasi yang serius menghambat operasional sistem tersebut secara signifikan.