Catatan Hari Pers Nasional, 9 Februari: The Secret Life of Walter Mitty
ILUSTRASI Catatan Hari Pers Nasional, 9 Februari: The Secret Life of Walter Mitty.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
THE SECRET LIFE OF WALTER MITTY, sebuah film yang dibintangi dan disutradarai Ben Stiller, menggambarkan petualangan, ketegangan, dan konflik menjelang terbitnya edisi cetak terakhir majalah legendaris Life.
Investor baru memutuskan edisi cetak akan ditutup dan pindah ke edisi online. Edisi terakhir yang bersejarah akan diisi dengan foto sampul jepretan fotografer legendaris Sean O’Conell yang misterius.
Ia mengirim negatif film nomor 25 kepada Walter Mitty, tetapi negatif itu hilang. Investor baru akan memecat Mitty kalau tidak bisa menemukan negatif tersebut.
Maka, Mitty yang cupu dan halu kelas berat harus berpetualang ke Greenland yang hanya berpenduduk 8 orang, lalu mengejar di Islandia, sampai kemudian ke pundak Gunung Hiamalaya untuk menemui sang fotografer.
BACA JUGA:Hari Pers Nasional Momentum Kuatkan Peran Media, Ini Kata Ketua PERSIS
BACA JUGA:Hari Pers Nasional, DPRD Kota Pasuruan Berkomitmen untuk Bersinergi dengan Media Massa
Akhirnya film negatif ditemukan, dan foto sampul yang dipasang dari negatif 25 itu adalah foto Walter Mitty yang sedang bekerja memilih negatif film untuk penerbitan rutin Life.
Kisah itu terasa pedih bagi mereka yang mencintai edisi cetak Life dan menikmati keindahan foto-foto hitam putih yang memesona. Rasa pedih yang sama mungkin terasa di kantor Kompas yang akhir tahun lalu menghentikan edisi cetak Minggu yang legendaris. Kepedihan yang sama ketika Sindo tutup, Bola gulung tikar, Republika tamat.
Surat kabar akan mati pada 2044. Itu adalah ramalan Prof Philip Meyer dari University of North Carolina, Amerika Serikat, yang sering dikutip setiap kali orang berbicara mengenai nasib koran. Dalam buku Vanishing Newspaper (2004) itu, Meyer tegas, tetapi hati-hati, meramalkan bahwa koran akan bertahkoranan sampai 20 tahun ke depan dan setelah itu good bye.
BACA JUGA:Sejarah Hari Pers Nasional 9 Februari: Diakuinya Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
BACA JUGA:Bak Srikandi Diplomasi, Menlu Retno Bawa Pulang Medali Emas Hari Pers Nasional dari PWI
Meyer lebih berhati-hati dalam membuat ramalan. Sebagai akademisi, Meyer menghitung semua variabel dengan cermat sebelum mengambil kesimpulan. Pada bagian lain, Bill Gates pada 1990-an sudah berani meramal bahwa koran hanya bisa bertahan sampai 2000. Raja media Rupert Murdoch juga memprediksi koran tidak akan mempunyai masa depan.
Determinisme teknologi itulah yang sekarang banyak dipercaya oleh para pengelola media. Munculnya teknologi akal imitasi (AI/artificial intelligence) dianggap sebagai paku pada peti mati (nail in the coffin) yang bakal mengirim industri media cetak ke kuburan.
Roger Fidler dalam Mediamorfosis (2003) membuktikan bahwa sepanjang sejarahnya, media menghadapi gempuran teknologi yang masif. Media cetak pertama muncul setelah ditemukannya mesin cetak oleh Johanes Gutenberg pada 1444. Setelah itu, muncul tekonologi radio yang ditemukan Gueglilmo Marconi pada 1894.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: