Pelajaran dari Dua Konflik untuk Pertahanan Udara Indonesia

Sabtu 10-01-2026,22:50 WIB
Oleh: Alfin Febrian Basundoro*

Namun, kuantitas dan pemerataan saja tidak cukup. Agar sishanud dapat beroperasi secara optimal sebagai ”tameng udara”, aspek integrasi tidak kalah penting. Sishanud perlu terintegrasi dengan radar pencari target agar keduanya dapat langsung merespons ancaman udara. 

Selain itu, agar dapat merespons banyak target dari beberapa penjuru sekaligus, antar-sishanud juga perlu saling terintegrasi. Maka, pemilihan sishanud dari negara yang setipe –misalnya dari sesama anggota NATO– perlu dipertimbangkan.

Akhir kata, agresi terhadap Venezuela dan Kamboja bukan hanya soal politik. Situasi keduanya memberikan pelajaran bagi Indonesia mengenai pembangunan pertahanan udara yang kuat dan terintegrasi. (*)

*) Alfin Febrian Basundoro adalah dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Airlangga dan koordinator Riset Center for National Defense and Strategic Studies (CNDSS) Indonesia.

Kategori :