Dilanjut: ”Rendahnya harga diri dan citra diri yang buruk pelaku serta hilangnya kendali eksternal, juga umum terjadi.”
Dari uraian tiga pakar psikologi itu, tampak benang merah yang mirip: Kemiskinan dan utang piutang pemicu tindak kekerasan, termasuk pembunuhan atau bunuh diri. Namun, tidak mutlak. Cuma terjadi pada orang (94 persen laki-laki) yang pada dasarnya gampang marah.
Para pelaku yang miskin dan berutang merasa harga dirinya rendah. Kondisi itu memicu pemberontakan diri sehingga ia melakukan tindak kekerasan. Termasuk pembunuhan.
Ulasan tiga pakar tersebut untuk kondisi masyarakat AS yang secara ekonomi dan budaya, berbeda dengan di Indonesia. Dalam hal ekonomi, bedanya hanya pada nilai kemiskinan. Suatu kondisi yang bagi masyarakat AS disebut miskin, tentu beda nilainya dengan kemiskinan di Indonesia.
Misalnya, nilai utang Rp300 ribu (setara USD17,91) pasti bernilai sangat rendah bagi orang AS. Tentu, di sana itu bukan problem.
Juga, beda budaya masyarakat AS dan Indonesia.
Namun, kualitas tekanan psikologis bagi pelaku bersifat universal. Orang miskin di AS yang tertekan psikologis setara dengan orang miskin di Indonesia. Sama-sama stres. Dan, stres jadi pemicu tindak kekerasan jika pelaku pada dasarnya gampang marah dan berperilaku menyerang.
Tersangka Suparman kini masih disidik polisi. Belum diungkap, apakah ia pernah melakukan tindak kriminal atau tidak. Tapi, dari pekerjaannya, orang bisa membayangkan karakter pelaku. (*)