Child Grooming Mengancam Anak-Anak

Kamis 15-01-2026,08:33 WIB
Oleh: Suryanto dan Bagong Suyanto*

Pelaku child grooming yang sudah berpengalaman, mereka akan memberikan banyak perhatian sehingga anak merasa diistimewakan dan pelan-pelan mulai menaruh rasa percaya. 

Pada titik kepercayaan sudah diperoleh, dengan mudah pelaku akan memperdaya korban dan menjadikan korban sebagai objek fantasi seksualnya yang liar. Relasi kuasa antara pelaku dan korban adalah relasi ketertundukan. 

Para korban yang rata-rata berusia di bawah umur dengan mudah dimanipulasi dan dimanfaatkan keluguannya oleh pelaku yang lebih dewasa.

Ketika korban sudah terperdaya, selanjutnya pelaku akan lebih mudah melakukan tindak pelecehan seksual atau bentuk eksploitasi lainnya. Korban biasanya tidak berani melawan atau bahkan secara sukarela menyerahkan kehormatannya karena mereka tidak punya kekuatan untuk melawan orang dewasa. 

Pelaku child grooming sering kali lebih leluasa mengendalikan korban, termasuk menakut-nakuti atau mengintimidasi apabila korban menyebarluaskan perbuatannya. 

Tindakan child grooming umumnya bersifat manipulatif, memanfaatkan ketidakdewasaan emosional dan kognitif anak yang belum bisa membedakan kasih sayang tulus dengan manipulasi yang mengarah pada tindak pelecehan seksual. 

Pelaku memanfaatkan keluguan dan kekosongan emosional anak. Mereka umumnya adalah orang-orang berasal dari lingkungan terdekat yang dipercaya korban seperti tetangga, kerabat, atau bahkan orang tua tiri. 

Dengan memanfaatkan ketidaktahuan sekaligus ketidakberdayaan korban, pelaku leluasa menjalankan niat jahatnya dengan cara menyalurkan hasrat seksualnya kepada korban yang masih anak-anak atau remaja.

MELINDUNGI KORBAN

Untuk memastikan agar anak-anak tidak menjadi korban child grooming, yang dibutuhkan tentu adalah kepedulian dan dukungan para orang tua. Perlu disadari bahwa tindakan child grooming sering kali datang dalam bentuk yang sangat halus dan sulit dikenali. 

Dibutuhkan kepekaan dan kemampuan orang tua dan masyarakat untuk melakukan mekanisme deteksi dini mencegah agar tidak terjadi child grooming

Sejumlah langkah yang perlu dikembangkan untuk mencegah agar kasus child grooming dapat diminimalkan adalah sebagai berikut.

Pertama, perlu dikembangkan edukasi kepada anak sebagai subjek utama yang potensial menjadi korban child grooming. Anak sejak usia dini perlu diajari tentang batasan pribadi, sentuhan yang aman dan tidak aman, dan pentingnya melaporkan ke orang tua atau orang dewasa yang dipercaya jika mereka merasa tidak nyaman. 

Dalam keluarga mana pun, orang tua seyogianya mengembangkan hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak. Jangan sampai terjadi anak tidak berani berbicara dan mengutarakan isi hatinya kepada orang tua karena ketakutan atau karena sudah terlalu terbiasa dikekang haknya untuk berpartisipasi. 

Di berbagai keluarga, semestinya dikembangkan suasana anak merasa nyaman untuk berbicara dengan orang tua atau wali tentang apa pun yang terjadi dalam hidup mereka.

Kedua, perlu diketahui bahwa child grooming tidak hanya terjadi secara langsung (tatap muka), tetapi tak jarang juga secara daring melalui media sosial atau game online. Di sini peran orang tua sangatlah krusial. 

Kategori :