Diskusi Broken Strings di Kampus Darma Cendika Gugah Kesadaran Kolektif terhadap Ancaman Child Grooming
SPEAK UP tentang kekerasan seksual dan child grooming diserukan para pembicara dalam Bedah Buku Broken Strings di Universitas Katolik Darma Candika pada Jumat siang, 30 Januari 2026. -Raden Khansa-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Broken Strings: Fragments of A Stolen Youth karya Aurelie Moeremans mencuatkan fakta tidak menyenangkan tentang child grooming dan kekerasan terhadap perempuan. Memoar itu menjadi pembahasan utama diskusi buku di Universitas Katolik Darma Cendika pada Jumat, 30 Januari 2026.
Bedah Buku Broken Strings menghadirkan empat narasumber. Ada perwakilan tokoh agama, akademisi, dan pemerhati isu gender. Mereka menyoroti kekerasan yang kerap tersembunyi di balik relasi personal.
Suster M. Veronica Endah Wulandari, JCL, JCD dari Institutum Ioannis Mariae Vianney Surabayanum (IMAVI) Keuskupan Surabaya mengapresiasi keberanian Aurelie untuk speak up lewat bukunya.
"Ini langkah penting untuk mendorong lahirnya perubahan budaya dalam masyarakat," paparnya di hadapan para peserta diskusi. Budaya yang dimaksud adalah ketabuan untuk mengungkap ketidakadilan.
Dalam bukunya, aktris serbabisa itu membagikan pengalaman pahitnya ketika menjadi korban kekerasan dan child grooming. Aurelie menyatakan bahwa manipulasi emosional dan relasi kuasa bisa menjerat korban sejak belia.
"Buku ini memicu keberanian untuk speak up. Ini penting agar masyarakat kita semakin adil dan semakin beradab," papar Veronika.
Dia menekankan bahwa tidak seharusnya rasa malu dan beban stigma dipikul oleh korban. "Yang seharusnya malu bukan korban, tapi pelaku," tegasnya.
"Korban lebih bermartabat daripada pelaku. Jangan takut mencari keadilan demi memulihkan kebebasan diri."
BACA JUGA:Bedah Buku Pater Fritz Meko: Kembara Pikiran, Catatan Harian Seorang Imam Katolik

SUSTER VERONICA menyampaikan pendapatnya atas buku Broken String: Fragments of A Stolen Youth yang ditulis Aurelie Moeremans. -Raden Khansa-Harian Disway
Korban memang cenderung akan dikuasai rasa takut untuk melapor. Sebab, budaya dalam masyarakat tidak memberikan kepercayaan yang setara kepada perempuan dan laki-laki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: