IVANA SAJOGO, psikiater konsultan anak dan remaja RSJ Menur Surabaya, menegaskan peran orang tua sebagai pengontrol interaksi anak dengan gawai.-Ilmi Bening-Harian Disway
Ia prihatin ketika mendapati putrinya mulai menunjukkan ketergantungan pada ponsel. Jika ponselnya diambil, si kecil marah dan menolak bermain dengan mainan yang lain.
“Akhirnya, saya dan istri mencoba ikut bermain masak-masakan bersamanya. Kami juga berkomitmen tidak menggunakan ponsel di depan anak,” ceritanya kepada Harian Disway Jumat, 16 Januari 2026.
Terpisah, Alyssa Putri, M.Psi., Psikolog dari Savy Amira mengatakan bahwa pendampingan aktif kepada anak terkait gawai juga bisa dilakukan dengan mengajak anak usia dini ngobrol tentang aktivitas mayanya.
“Misalnya, si anak kedapatan menonton konten yang tidak layak tonton tanpa sengaja, orang tua harus bisa menjelaskan dan mengedukasi,” jelasnya saat dihubungi pada 5 Januari 2026.
BACA JUGA:Kampung Lali Gadget; Wujudkan Masa Kecil Gembira Tanpa Ketergantungan Gawai
BACA JUGA:Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Jadi Relawan di Kampung Lali Gadget
Alyssa mengatakan bahwa para orang tua perlu membiasakan anak-anak untuk tidak mengakses gawai beberapa jam sebelum tidur. Itu supaya mereka tidak mengalami insomnia. Dia juga menyarankan para orang tua mengaktifkan parental mode pada gawai.
“Atau bisa juga dengan menyediakan device khusus yang memang hanya bisa dipakai untuk kegiatan akademik. Tidak ada sosial media atau gim,” ucapnya.
Cara lain yang direkomendasikan psikolog untuk mengatasi kecanduan gawai pada anak adalah dengan memperbanyak aktivitas fisik. Misalnya, olahraga, aktivitas seni, bersepeda, bersosialisasi dan bermain di area outdoor, serta kegiatan keagamaan.
Itu pula yang kemudian dipraktikkan Dewa dan sang istri. “Setelah kami mengubah kebiasaan kami dan mengakrabkan anak pada aktivitas fisik, sekarang ketergantungannya pada gadget sudah jauh berkurang,” tandasnya. (*)
BACA JUGA:Kurikulum Bermain Tematik Terbaru Kampung Lali Gadget Sidoarjo