Mereka yang Terbebas dari Cengkeraman Sindikat Penipu di Kamboja, Kini Hanya Terpikir Bertahan Hidup

Sabtu 17-01-2026,14:33 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

Mark Taylor, mantan pimpinan LSM anti-perdagangan manusia di Kamboja, melihat pola serupa. Ada pengalihan sumber daya—mulai pekerja, perangkat, hingga manajer—sebelum operasi penegakan hukum.

Semua itu, kata Taylor, tampak sebagai hasil “kolusi.” Strategi itu punya dua tujuan. Di sisi lain memunculkan reputasi pemerintah dalam pemberantasan kejahatan, sekaligus menjaga ’’industri’’ penipuan tetap bisa bertahan dan beradaptasi.

Sementara itu Amnesty menuding pemerintah Kamboja secara sengaja mengabaikan adanya fakta pelanggaran hak asasi yang dilakukan geng penipuan siber. Sindikat itu merekrut pekerja lewat janji gaji besar, lalu menyekap dan memaksa mereka bekerja di dalam kompleks.

***

Bus pariwisata yang dipenuhi penumpang berbahasa Mandarin beberapa kali terlihat bergerak keluar kota, menuju Phnom Penh. Ketika dicegat, banyak dari mereka menjawab: “Tidak tahu.” Tidak tahu mau ke mana, tidak tahu rencana apa yang menanti. Namun dari tatapan mata dan gestur tubuh, ketakutan tampak lebih jelas daripada kalimat mana pun. Mereka tahu aparat mulai mendekat, dan tak ada yang ingin tertinggal.

Di depan Amber Casino, pria Bangladesh tadi ikut merapat ke barisan, menjinjing tas tangan bermerek palsu. Suaranya nyaris tenggelam di antara deru mesin dan langkah kaki. “Ini soal bertahan hidup sekarang,” ucapnya

Dan di Sihanoukville yang berubah setiap jamnya, di kota resor yang kini lebih mirip markas, bertahan hidup bukan lagi soal hukum atau kejahatan. Ia hanya soal siapa yang lebih cepat meninggalkan kota sebelum semua pintu tertutup. (*)

 

Kategori :