Mereka yang Terbebas dari Cengkeraman Sindikat Penipu di Kamboja, Kini Hanya Terpikir Bertahan Hidup

Mereka yang Terbebas dari Cengkeraman Sindikat Penipu di Kamboja, Kini Hanya Terpikir Bertahan Hidup

KOMPLEKS BANGUNAN Jinbei 4 di Shihanoukville, Kamboja, 15 Januari 2026. Bangunan itu ditengarai sebagai kompleks sindikat penipuan online.-TANG CHHIN SOTHY-AFP-

Di Kamboja sempat tumbuh ’’pusat penipuan online.’’ Ratusan orang dipekerjakan di bawah tekanan. Seperti perbudakan. Saat tempat scammer itu runtuh, para pekerja pun menyambut kebebasannya. Meski masih was-was.

LANGIT di kota Sihanoukville, sisi barat daya Kamboja, masih lembap dan dipenuhi debu dan asap. Dalam kondisi itu, terlihat sekelompok manusia yang berbegas. Mereka menyeret koper, menenteng monitor komputer, menggendong hewan peliharaan, hingga memanggul furnitur kecil.

Pemandangan Kamis, 15 Januari 2026, itu, seperti sebuah eksodus kecil dari sebuah kota yang mengalami bencana. Bedanya, ’’bencana’’ itu adalah sindikat penipuan online. Muaranya cuma satu: ketakutan. Yakni ketakutan terhadap satu nama yang baru saja tumbang: sang raja penipu yang paling dicari di Kamboja.

Di halaman Amber Casino, mereka naik tuk-tuk, SUV Lexus, dan bus pariwisata. Mesin-mesin menderu bergantian, bagasi ditumpuk terburu-buru. Di antara kerumunan itu, seorang pria asal Tiongkok membisikkan suaranya pada reporter Agence France-Presse. “Kamboja sedang kacau,” ujarnya singkat. “Tidak ada tempat yang aman untuk bekerja lagi,” tambahnya.

Kalimat itu menegaskan era baru: era ketika para pelaku penipuan digital mulai kehilangan tempat bersembunyi.

Dua hari sebelumnya, pemerintah Kamboja memang mengambil langkah tegas. Mereka mengetatkan pengawasam pada industri penipuan siber bernilai miliaran dolar itu. Karena itu, adegan eksodus itu pun muncul di berbagai gedung lain yang ditengarai sebagai pusat penipuan.

Namun penduduk sekitar berkata banyak pekerja sudah pergi jauh sebelum aparat datang. Seorang analis menyebutnya “teater anti-kriminal.” Itulah ’’sandiwara’’ hukum yang hasil akhirnya tetap menguntungkan segelintir orang.

BACA JUGA:Bareskrim Polri Pulangkan Sembilan Korban TPPO dari Kamboja

BACA JUGA:Indonesia dan Jalan Perdamaian Kamboja-Thailand

Jaringan kejahatan yang beroperasi dari kantong-kantong kecil di Asia Tenggara itu sudah lama memikat korban dari seluruh dunia. Mereka melakukan banyak hal. Mulai memancing korban pada hubungan asmara palsu hingga investasi kripto fiktif lewat layar ponsel.

Awalnya mayoritas penipuan dikemas dalam bahasa Mandarin. Kini, seluruh dunia jadi sasaran: bahasa berganti, korban meluas, sementara dana yang hilang mencapai puluhan miliar dolar setiap tahun.

Data kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mencatat kerugian global dari penipuan online mencapai 37 miliar dolar AS pada 2023.

Di Kamboja saja, UNODC memperkirakan sedikitnya 100 ribu orang bekerja di industri tersebut. Alhasil, Sihanoukville menjelma ’’laboratorium’’ kejahatan digital terbesar di kawasan tersebut.


BERKEMAS DAN MENGUNGSI, para bekas pekerja sindikat penipuan ini berupaya menghindari kejaran aparat hukum.--

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: