Mereka yang Terbebas dari Cengkeraman Sindikat Penipu di Kamboja, Kini Hanya Terpikir Bertahan Hidup

Mereka yang Terbebas dari Cengkeraman Sindikat Penipu di Kamboja, Kini Hanya Terpikir Bertahan Hidup

KOMPLEKS BANGUNAN Jinbei 4 di Shihanoukville, Kamboja, 15 Januari 2026. Bangunan itu ditengarai sebagai kompleks sindikat penipuan online.-TANG CHHIN SOTHY-AFP-

Tidak semua yang berada di balik layar gawai itu penipu yang memang sukarela menjadi penipu. Sebagian hanyalah pekerja migran yang dijebak, dipaksa, bahkan disekap dalam kompleks-kompleks bertembok tinggi.

Amnesty International dalam laporannya tahun lalu menyebut ada 22 lokasi penipuan di Sihanoukville. Sedangkan di Kamboja, totalnya ada 53 pusat scamming. Dan fakta di balik angka itu jauh lebih mengerikan. Terutama bagi mereka yang pernah bekerja di gedung-gedung tersebut.

Seminggu terakhir, reporter AFP berkeliling Sihanoukville pasca penangkapan Chen Zhi, warga kelahiran Tiongkok yang diindikasikan sebagai bos penipuan kelas kakap. Chen sebelumnya menjalankan sejumlah hotel judi di kota tersebut.

Chen lantas diincar oleh otoritas Amerika Serikat yang menuding perusahaannya, Prince Group, hanyalah kedok jaringan kejahatan transnasional. Begitu ditangkap, kini Chen diekstradisi ke Tiongkok.

BACA JUGA:Setengah Juta Warga Dievakuasi akibat Konflik di Perbatasan Kamboja–Thailand Memanas

BACA JUGA:110 WNI Diamankan di Kamboja Usai Kabur dari Perusahaan Penipuan Online

Namun di antara koper yang dibawa terburu-buru, sulit mencari orang yang mau bercerita. Tak ada yang mau disebutkan namanya. Ketakutan mereka sungguh nyata. 

Di depan Amber Casino, seorang pria Bangladesh berkata pelan, “Perusahaan Tiongkok kami baru saja menyuruh kami pergi secepatnya.” Ia menghela napas, lalu menyelipkan senyuman tipis yang terasa pahit. “Tapi tidak apa-apa. Banyak tawaran pekerjaan lain,” katanya menghibur diri.

Sihanoukville juga telah berubah. Dulu, kota pesisir itu dikenal dengan langitnya yang biru, hotel-hotel kecil, plus kasino untuk turis Tiongkok. Tapi, kini kota itu penuh gedung tinggi yang tak selesai, menara kaca yang gelap, dan kompleks bertembok yang lebih mirip benteng. Di dalam benteng-benteng itulah ribuan penipu bekerja, memanipulasi korban di seberang dunia. 

Di luar, pemerintah baru memamerkan kebijakan baru: Perdana Menteri Hun Manet berikrar via Facebook untuk “menghapus semua masalah terkait kejahatan penipuan siber”.


MENINGGALKAN GEDUNG, Rabu malam. 14 Januari 2026, para karyawan sindikat penipuan ini melarikan diri karena tekanan aparat keamanan.-TANG CHHIN SOTHY-AFP-

Angka yang diumumkan juga memukau publik: Komisi anti-penipuan Kamboja mengklaim telah menggerebek 118 lokasi dan menangkap sekitar 5.000 orang dalam enam bulan terakhir. 

Setelah Chen dideportasi ke Tiongkok, pemerintah memperketat kembali ruang gerak afiliasi Prince Group: Prince Bank dilikuidasi, penjualan rumah mewah di beberapa propertinya dibekukan.

Di waktu yang hampir bersamaan, Tiongkok meningkatkan perburuan terhadap para aktor penipuan. Chen bukan satu-satunya. Figur-figur penting lain di Asia Tenggara juga dibawa ke Tiongkok untuk diadili di tanah kelahiran para korbannya.

Namun bagi sebagian warga lokal, ada tanda tanya besar soal waktu dan koordinasinya. Seorang sopir tuk-tuk 42 tahun di Sihanoukville bercerita pada AFP bahwa ratusan warga Tiongkok meninggalkan sebuah kompleks sebelum polisi tiba. “Sepertinya mereka sudah diberi tahu,” ujarnya singkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: