Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab

Kamis 22-01-2026,10:51 WIB
Oleh: Rizki Andini*

Sebaliknya, dalam bahasa Indonesia, konstruksi intransitif dan pasif tanpa agen kerap menjadi pilihan dominan, bahkan untuk peristiwa yang jelas melibatkan campur tangan manusia. 

Dalam pemberitaan banjir Sumatera, misalnya, sering dijumpai kalimat seperti ”ribuan rumah terendam banjir”, ”sejumlah jalan terputus akibat genangan banjir”, ”permukiman warga di beberapa kecamatan terdampak banjir” atau ”banjir diakibatkan jebolnya tanggul”. 

Konstruksi kalimat berawalan ter- dan di- itu menempatkan bencana sebagai keadaan yang dialami, bukan sebagai hasil dari rangkaian tindakan atau keputusan tertentu, sehingga agen manusia tidak dihadirkan dalam struktur kalimat. Akibatnya, bencana tampil sebagai fakta alamiah, bukan lagi sebagai peristiwa sosial-ekologis yang kompleks.

Dalam perspektif ekologi bahasa digital, pilihan berbahasa semacam itu bukanlah kebetulan. Konstruksi pasif yang menghilangkan agen dianggap lebih aman karena melindungi institusi dan individu dari potensi konflik hukum. Namun, konsekuensinya tidaklah kecil. 

Ketika bahasa publik terus-menerus menghadirkan bencana melalui konstruksi pasif tanpa agen, etika diskursus perlahan bergeser. Peristiwa hadir tanpa pelaku, dampak muncul tanpa sebab yang jelas dan tanggung jawab menjadi samar. 

Dalam jangka panjang, kebiasaan lingusitik tersebut membentuk cara berpikir kolektif yang rendah akuntabilitas, tidak hanya dalam memberitakan bencana alam, tetapi juga dinamika sosial di ruang publik digital.

Mungkin inilah saatnya kita lebih peka terhadap pilihan kata. Mengatakan ”banjir terjadi” memang mudah, tetapi mengatakan ”banjir terjadi karena ada keputusan tertentu yang seharusnya diambil tetapi tidak diambil” adalah langkah awal menuju kesadaran akan tanggung jawab. 

Dalam banjir, yang paling cepat hanyut bukan hanya harta benda, melainkan juga rasa tanggung jawab yang perlahan menghilang bersama agen yang tidak dimunculkan dalam konstruksi kalimat. (*)

*) Rizki Andini adalah dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

 

Kategori :