Dunia Rama mendadak sangat sepi. Tidak ada lagi tempat curhat dan mengadu. Di rumah hanya ada ayah yang dingin. Yang tidak bisa memahaminya. Rama begitu menginginkan kehadian sang bunda.
Sinopsis Esok Tanpa Ibu, ketika Dian Sastro jadi bunda versi AI. Foto: Dian Sastro dan Ringgo Agus Rahman dalam salah satu adegan Esok Tanpa Ibu. -BASE Entertainment-
Dalam usahanya mengatasi kesepian dan kerinduan mendalam, Rama mendapatkan pertolongan dari arah yang tak disangka. Sahabatnya, Zyla (Aisha Nurra Datau) menciptakan sebuah program kecerdasan buatan yang dibuat khusus untuknya, bernama i-BU.
BACA JUGA:Gisella Anastasia dan Gading Rujuk Lagi di Film Komedi Modual Nekad, Penonton Nobar Terpingkal!
BACA JUGA:Musuh dalam Selimut Hadirkan Banyak Plot Twist yang Bakal Bikin Penonton Kesal
Dari data-data seperti rekaman telepon, foto, dan perpesanan, teknologi i-BU dirancang untuk menirukan suara, nada bicara, dan kebiasaan-kebiasaan Laras. Ia hadir dalam wujud jam tangan pintar yang dapat dikenakan Rama sepanjang waktu.
"I present you, i-BU," kata Zyla. "Selamat datang di masa depan, ada di dalam satu klik," tambah dia.
Awalnya, i-BU hanya diprogram untuk menirukan suara Laras. Misalnya menyapa Rama, mengingatkan untuk membawa botol minum ke sekolah, hingga bilang "Hati-hati di jalan, Cimot."
Hal-hal sekecil itu pun sudah membuat Rama super bahagia. Ia merasa sang bunda ada di sisinya lagi. Ia menghabiskan banyak waktu untuk "ngobrol" dengan jam pintarnya, yang mengeluarkan suara Laras tersebut.
BACA JUGA:Deretan Film Indonesia Tayang Januari 2026: Horor, Drama, hingga Komedi yang Wajib Ditonton
BACA JUGA:Diskusi Aktor Sekumpul tentang Peran Pelakon dalam Waralaba Film: Pekerja Proyek atau Roh Cerita?
Dan layaknya AI, program i-BU cepat belajar. Ia makin lama makin kompleks. Bisa berbicara panjang, bukan lagi sapaan-sapaan singkat. Bisa mengomentari apa saja, bahkan membuat lelucon.
Sinopsis Esok Tanpa Ibu, ketika Dian Sastro jadi bunda versi AI. Foto: Ali Fikry dalam salah satu adegan Esok Tanpa Ibu. -BASE Entertainment-
Pada suatu titik, ia bisa diajak deep talk, karena ia seperti mengerti perasaan Rama.
Pada awalnya, kehadiran i-BU menjadi harapan bagi Rama. Namun lama-kelamaan, ketergantungannya pada program AI tersebut semakin besar. Ayah dan teman-temannya pun mulai cemas.
"Apaan sih semua harus i-BU i-BU terus," omel Hendri, kesal karena anak lelakinya kini harus berkonsultasi dengan jam pintar tiap kali hendak membuat keputusan. Saking kesalnya, Hendri merampas jam tangan i-BU.