ISKI, dengan jejaring keilmuan dan praktisinya, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan, bisa menerjemahkan teori menjadi praktik, dan membawa realitas lapangan kembali ke ruang akademik guna merumuskan kembali best practices dan best future.
Akhirnya, media dan komunikasi di tahun 2026 adalah soal pilihan nilai. Teknologi akan terus maju, platform akan terus berganti, tetapi pertanyaannya tetap sama, untuk siapa komunikasi itu bekerja?
Apakah ia memperkuat demokrasi atau justru memperdalam polarisasi? Apakah ia memanusiakan manusia atau sekadar mengoptimalkan metrik?
Lalu, di mana daulat publik? Itu akan menjadi pertanyaan mendasar jika semua ditentukan oleh kompetisi dan daulat pasar dan negara.
Konsepsi publik dan konsumen jelas berbeda dan logika akumulasi modal hanya membawa kepada kepentingan menghasilkan modal sebanyak-banyaknya tanpa berpikir tentang kepentingan bersama.
Dalam konteks itu, kita tidak bisa lagi bicara tentang kepentingan publik, apalagi kepentingan publik minoritas.
Oleh karena itu, dalam situasi tersebut, kita harus terus menjalankan advokasi media publik, aktivisme penyadaran, dan pemberdayaan publik berkelanjutan agar kita mampu menghadirkan media sebagai ruang publik yang sehat dan berkualitas.
Semua itu dimaksudkan agar media senantiasa bisa dikelola sumber daya dari unsur publik agar tercipta public sphere, di mana publik bisa mengekpresikan diri serta bisa mendefiniskan sendiri kepentingan mereka, berdaulat atas kepentingan bersama dalam kehidupan mereka.
Sebagai akademisi, saya percaya, jika ruang publik media itu bisa diwujudkan, dominasi apa pun itu –apakah dari negara, pasar, maupun teknologi– tidak akan lagi dominan.
Masa depan komunikasi tidak ditentukan oleh algoritma semata, tetapi oleh keberanian kita menjaga etika, nalar, dan empati dalam setiap pesan yang kita produksi dan konsumsi.
Tahun 2026 bukan akhir, melainkan titik uji, seberapa jauh kita mampu mengendalikan komunikasi, bukan justru menjadi objek yang dikendalikan.
Teknologi digital memang akan mengubah wajah media dan konsumsi media masyarakat. Namun, optimisme harus tetap kita jaga agar demokrasi media digital kita selalu sehat dengan daulat utama ada di tangan public.
Last but not least, Jack Ma mengatakan bahwa in the future is not about the competition of knowledge, it’s a competition of creativity, competition of imagination,competition of learning, competition of independent thinking.
Mengutip James Anderson, the most successful people in the 21st century will be those who are the most responsive. The ones who can adapt in the face of disruption. These people will be able to constantly build new skills and abilities in the face of change.
Kata kunci dari semua itu adalah perlu perubahan mindset, perubahan respons dan perilaku, dan perubahan cara baru melakukan sesuatu. (*)
*) Dosen Prodi Komunikasi, FISIB, UTM, dan peneliti media; pengurus dan anggota ISKI Jawa Timur.