Kerinduan Fisik di Era Digital
ILUSTRASI Kerinduan Fisik di Era Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
TULISAN Prihandari Satvikadewi yang berjudul Mendengarkan Tubuh di Tengah Media (Harian Disway, 31 Januari 2026) menempatkan tubuh sebagai titik tolak dalam membaca ekologi Media. Dia memandang Media sebagai lingkungan yang membentuk ritme hidup manusia.
Perspektif tersebut membuka perenungan berikutnya tentang nasib pengalaman kebertubuhan ketika kehidupan sehari-hari makin dimediasi perangkat digital.
Maurice Merleau-Ponty dalam Phenomenology of Perception menjelaskan bahwa tubuh bukan objek biologis yang digerakkan pikiran. Ponty memaknai tubuh sebagai lived body, yakni subjek persepsi yang menghayati dunia sebelum dunia itu dipahami sebagai konsep.
BACA JUGA:Berhala di Era Digital
BACA JUGA:Nasionalisme di Era Digital Disruptif
Manusia mengalami dunia melalui gerak, sentuhan, napas, dan orientasi spasial, melalui pengalaman kebertubuhan. Kesadaran tidak berdiri terpisah dari tubuh, tetapi berakar pada pengalaman indrawi yang berlangsung terus-menerus.
Lingkungan digital menggeser kualitas pengalaman tersebut. Layar mempercepat aliran informasi dan memperluas akses komunikasi. Namun, layar juga mereduksi dimensi sensoris yang menyertai pengalaman fisik. Pengguna melihat tanpa jarak spasial yang nyata dan mendengar tanpa gaung ruang akustik.
Sistem notifikasi membentuk pola respons yang segera dan berulang. Tubuh menyesuaikan diri pada ritme sistem yang beroperasi tanpa jeda. Situasi itu menempatkan tubuh dalam posisi yang reaktif dan mengurangi peran tubuh sebagai pusat orientasi makna.
BACA JUGA:Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Bermusyawarah di Era Digital
BACA JUGA:Paradoks Lebaran di Era Digital
Belakangan di kalangan generasi muda bermunculan fenomena kembalinya objek fisik, menunjukkan dinamika yang patut diperhatikan. Misalnya, praktik mengoleksi kaset, CD, atau piringan hitam yang memperlihatkan keterlibatan indrawi yang berbeda dari layanan streaming.
Mereka membuka kemasan, menyentuh permukaan vinil, dan menempatkan jarum pemutar secara manual. Aktivitas tersebut menuntut perhatian pada durasi dan urutan. Musik hadir bersama medium yang memiliki berat, tekstur, dan batas.
Fenomena serupa muncul dalam praktik membaca buku cetak dan pembentukan komunitas membaca di berbagai kota. Pembaca membolak-balik halaman, mencium aroma kertas, memberi coretan pada tiap kalimat penting, dan merasakan perubahan ketebalan buku seiring kemajuan membaca.
BACA JUGA:Otak Tumpul di Era Digital
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: