Tren Media dan Komunikasi 2026 (5-Habis): Perlu Pemahaman dan Cara Baru

Tren Media dan Komunikasi 2026 (5-Habis): Perlu Pemahaman dan Cara Baru

ILUSTRASI Tren Media dan Komunikasi 2026 (5-Habis): Perlu Pemahaman dan Cara Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MEMASUKI tahun 2026, lanskap media dan komunikasi Indonesia, bahkan global, tidak lagi bisa dibaca dengan kacamata lama. Perubahan yang terjadi bukan semata soal teknologi yang makin canggih, melainkan tentang bagaimana relasi kuasa, produksi makna, dan etika komunikasi berkelindan dalam ruang publik yang kian cair. 

Sebagai akademisi, saya melihat 2026 sebagai tahun konsolidasi dan sekaligus transformasi. Saat berbagai kecenderungan yang selama ini kita amati akhirnya bertemu, saling menguatkan, atau justru saling menegasikan.

Isu pertama yang tak terelakkan adalah normalisasi kecerdasan buatan dalam praktik komunikasi sehari-hari. Jika pada tahun-tahun sebelumnya AI diposisikan sebagai ”alat bantu”, kini ia telah menjadi ”aktor” yang ikut menentukan arah wacana. 

BACA JUGA:Tren Media dan Komunikasi 2026 (1): Berbasis Data untuk Future Practices

BACA JUGA:Tren Media dan Komunikasi 2026 (2): Memahami Dinamika dan Kompleksitas Manusia, Ekonomi, serta Teknologi

Di ruang redaksi, algoritma tak hanya membantu menyunting atau meringkas, tetapi juga ikut menentukan sudut pandang yang dianggap layak tayang. 

Di media sosial, konten yang kita konsumsi merupakan hasil kurasi mesin yang belajar dari preferensi kita sendiri. Di titik itu, komunikasi bukan lagi sepenuhnya antarmanusia, melainkan manusia–mesin–manusia.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada asimetri kendali. 

Publik menikmati kemudahan, tetapi sering kali tanpa kesadaran kritis atas bagaimana data mereka digunakan, bagaimana opini dibentuk secara halus, dan bagaimana logika komersial maupun politik bekerja di balik layar. 

BACA JUGA:Tren Media dan Komunikasi 2026 (3): Media Online dan Teknologi Digital, Quo Vadis?

BACA JUGA:Tren Media dan Komunikasi 2026 (4): Tekanan Fundamentalisme Pasar, Algoritma, dan Krisis Kepercayaan Publik

Tahun 2026 menuntut literasi baru, tidak sekadar mampu membaca pesan, tetapi mampu membaca sistem yang memproduksi pesan.

Isu kedua adalah krisis kepercayaan terhadap media arus utama yang belum sepenuhnya pulih. Di satu sisi, media profesional dituntut menjaga akurasi dan integritas. 

Di sisi lain, mereka bersaing dengan kreator independen, influencer, dan kanal alternatif yang bergerak cepat, emosional, dan sering kali lebih ”dekat” dengan audiens. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: