Tren Media dan Komunikasi 2026 (5-Habis): Perlu Pemahaman dan Cara Baru
ILUSTRASI Tren Media dan Komunikasi 2026 (5-Habis): Perlu Pemahaman dan Cara Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Publik tidak selalu memilih yang paling benar, tetapi yang paling relevan secara emosional. Itu tantangan serius bagi jurnalisme, bagaimana tetap berpegang pada etika, tanpa terjebak dalam elitisme informasi.
Dalam konteks ini, komunikasi publik di tahun 2026 harus lebih dialogis. Media tidak bisa lagi berbicara dari menara gading, seolah-olah memiliki otoritas tunggal atas kebenaran.
Partisipasi warga, jurnalisme kolaboratif, dan transparansi proses produksi berita menjadi kata kunci. Tidak berarti semua opini setara, tetapi konteks sosial semua suara perlu dipahami sebelum direspons.
Isu ketiga yang patut dicermati adalah politisasi ruang digital yang kian canggih. Jika dulu disinformasi disebar secara kasar dan mudah dikenali, kini ia hadir dalam bentuk narasi yang rapi, visual yang meyakinkan, bahkan dikemas sebagai hiburan.
Tahun 2026 bukan lagi era hoaks murahan, melainkan era manipulasi halus. Di sanalah komunikasi politik beririsan dengan psikologi massa dan teknologi data.
Sebagai bangsa yang akan terus menghadapi agenda politik, kita perlu mengantisipasi itu dengan pendekatan yang tidak reaktif semata. Pemblokiran dan sensor sering kali terlambat dan kontraproduktif.
Yang lebih mendesak adalah penguatan etika komunikasi politik, baik di kalangan elite maupun pendukungnya, serta pendidikan publik yang menekankan nalar kritis, bukan fanatisme identitas.
Isu keempat adalah komodifikasi atensi dan kelelahan publik. Tahun 2026 ditandai oleh banjir informasi yang nyaris tanpa jeda. Notifikasi, breaking news, trending topic, semuanya berebut ruang di kepala kita.
Akibatnya, banyak orang mengalami kelelahan informasi (information fatigue), menjadi apatis, atau justru reaktif secara emosional. Komunikasi kehilangan kedalaman. Yang tersisa adalah potongan-potongan pesan tanpa refleksi.
Di sanalah peran akademisi komunikasi menjadi relevan, bukan hanya di ruang kelas atau jurnal ilmiah, melainkan di ruang publik.
Kita perlu mendorong kembali nilai komunikasi bermakna, pesan yang memberikan konteks, membuka ruang berpikir, dan tidak semata mengejar klik.
Media yang berani melambat, memberi jeda, dan mengajak audiens merenung justru akan menemukan relevansi baru di tengah hiruk-pikuk digital.
Isu kelima, yang sering luput dibicarakan, adalah ketimpangan representasi. Teknologi sering dipuja sebagai demokratis, tetapi realitasnya tidak selalu demikian.
Kelompok marginal, baik secara ekonomi, geografis, maupun kultural, masih sering menjadi objek pemberitaan, bukan subjek yang berbicara.
Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki itu. Bukan dengan romantisasi, tetapi dengan memberi akses, pelatihan, dan ruang aktual bagi mereka untuk memproduksi narasi sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: