Perjuangan vaksin melawan influenza tidak mudah karena beberapa alasan. Virus influenza sangat cepat bermutasi, sekitar 100 kali lipat daripada vaksin SARS-CoV-2. Vaksin yang digunakan saat ini mungkin tidak bisa dipakai lagi tahun depan dan hal itu kemudian terbukti.
Virus menunjukkan perbedaan sekuen genetik pada setiap tahun yang berbeda. Bukan hanya itu, virus yang beredar di belahan bumi utara dan selatan ternyata tidak selalu sama.
Muncullah kemudian kebijakan untuk membuat vaksin yang diperbarui setiap tahun. Dengan sendirinya, vaksinasi juga perlu diulang setiap tahun. WHO mengoordinasi upaya berkesinambungan untuk memantau variasi genetik virus. Secara umum, perlindungan vaksin influenza maksimal adalah 60–70 persen.
Vaksin influenza dimaksudkan tidak hanya untuk mencegah kematian (yang merupakan tujuan pertama vaksin), tetapi juga untuk mencegah kesakitan. Bahkan, dengan kemampuan perlindungan 40 persen, vaksin itu telah mencegah penyakit pada jutaan manusia, suatu angka yang sangat bermakna.
Kelompok yang paling diuntungkan oleh vaksin tersebut adalah para orang lanjut usia, anak-anak, orang dengan komorbid, dan ibu hamil. Mereka itu mendapat keuntungan dari vaksin lebih dari orang yang berusia muda dan relatif tidak mempunyai penyakit lain apa pun.
Ada beberapa jenis vaksin influenza seperti vaksin inaktif, vaksin hidup dilemahkan, dan vaksin mRNA. Yang paling banyak digunakan adalah vaksin inaktif yang mengandung 3 atau 4 jenis virus influenza.
Vaksin influenza hidup yang tersedia hari ini bisa diberikan melalui semprot hidung yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan suntikan. Vaksin jenis itu juga akan tersedia di negeri kita.
Hingga saat ini vaksin influenza memang tidak masuk program imunisasi nasional di Indonesia. Namun, ketersediaan di sektor swasta cukup terjamin. Harga di sarana kesehatan swasta tidak terlalu mahal, sebenarnya.
Upaya perlindungan terhadap influenza tidak semata-mata ditujukan untuk situasi pandemi. Setiap tahun, tanpa adanya kenaikan kasus yang mencolok, influenza sudah mematikan sekitar 600 ribu orang.
Akan sangat baik jika kita bisa mencegah kematian pada sebagian besar manusia di kelompok tersebut, terutama mereka yang berisiko tinggi.
Vaksin influenza untuk manusia berhubungan erat dengan vaksin yang sama untuk unggas. Bagaimanapun, penyakit influenza ditularkan pula oleh hewan.
Kasus flu burung H5N1 yang menggemparkan negara kita di awal abad ini mematikan jutaan unggas dan jika menyerang manusia mempunyai angka kematian hingga 70–80 persen.
Pada 2009 di Amerika Serikat merebak flu babi dengan angka kesakitan melampaui 100 ribu orang, termasuk tiga ribu yang meninggal. Saat ini makin besar kesadaran dan keyakinan bahwa upaya penyelesaian masalah penyakit di manusia tidak berdiri sendiri.
Upaya terpadu dengan sektor hewan dan tumbuhan harus menjadi prioritas. Konsep tersebut dikenal dengan istilah One Health atau Planetary Health.
Sebagai salah satu penyakit yang mempunyai vaksin, konsistensi kita untuk selalu mengutamakan pencegahan influenza dengan kegiatan imunisasi tak boleh surut.
Walaupun saat ini makin banyak tantangan yang dihadapi, terutama akibat situasi politik yang berubah-ubah di banyak negara, para ilmuwan konsisten dengan rekomendasi untuk imunisasi tersebut.