Virus Nipah Tengah Merebak di India, Perlu Diwaspadai? Ini Jawaban Ahli
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Tjandra Yoga Aditama. Ia memberikan pernyataan tentang virus Nipah yang sedang merebak di India-Dok. Pribadi-
HARIAN DISWAY - Virus Nipah (NiV) telah menjangkiti lima orang di Benggala Barat, India. Kasus ini bermula dan menjangkiti dua perawat di Kota Basarat, Benggala Barat, India. Satu perawat pria membaik, namun satu lainnya yaitu perawat wanita dilaporkan masih kritis dan berada di ICCU.
Virus ini mulai menyebar ke tiga orang lagi hingga akhirnya saat ini kurang lebih 100 orang yang telah kontak erat dengan pasien tengah menjalani isolasi dan berada dalam pengawasan ketat.
Virus ini pertama kali dikenali di Malaysia pada tahun 1999 pada sebuah peternakan babi. Hewan-hewan peliharaan di sana menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas, dan kejang. WHO mencatat bahwa virus Nipah yang terjadi saat itu ditularkan dari kelelawar buah ke babi.
Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Prof. Tjandra Yoga Aditama, Virus Nipah merupakan virus zoonosis yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini sangat patogenik dan merupakan virus RNA dari famili Paramyxoviridae, virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia lewat kontak erat dengan penderita.
BACA JUGA:Lebih Kenal tentang Virus Nipah: Asal, Cara Penularan, Gejala, dan Cara Mencegah
BACA JUGA:Menyusul Virus Nipah yang Melanda India, Pemerintah RI Keluarkan Surat Kewaspadaan
Misalnya ketika bersentuhan secara langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti lewat air liur, darah, dan urine. Begitu juga penularan dari manusia, hal ini bisa terjadi dari infeksi melalui cairan tubuh pasien yang terinfeksi, seperti air liur, darah, juga urine dari pasien yang terjangkit.
Dilansir dari World Health Organization (WHO) gejala yang terjadi pada manusia berkisar dari infeksi tanpa gejala hingga infeksi pernapasan akut dan ensefalitis (radang otak) yang berakibat fatal.

Virus Nipah telah mewabah di India-Foto/Unsplash/CDC-
Gejala yang ditunjukkan mulai dari demam, muntah, sakit kepala, sakit tenggorokan, sesak napas. Juga dapat diikuti dengan rasa pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut.
“Pada ensefalitis maka pasien dapat menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang, sampai koma. Yang kalau sudah berat maka angka kematiannya bisa sampai 40%-70%,” tuturnya.
BACA JUGA:Virus PMK Terus Menyebar di Jatim, Infeksi 350 Ekor Ternak per Hari
BACA JUGA:Virus PMK Naik Jelang Ramadan, Ini Kata Khofifah
Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4-21 hari, juga ada yang lebih lama. Namun hingga saat ini belum ditemukan vaksin ataupun obat spesifik untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah ini.
Sejak awal ditemukannya pada tahun 1998-1999, virus Nipah telah mencapai sekitar 750 kasus yang bermula dari Malaysia. Ditemukan juga kasus di Bangladesh, India, Filipina dan Singapura, yang mana merupakan negara tetangga Indonesia.
Lalu mengapa Indonesia perlu waspada?
- Karena WHO mengamati virus Nipah dan menjadi prioritas penelitian dan pengembangan pada 2018. Sehingga dianggap sebagai virus yang serius hingga diamati sampai tingkat WHO.
- Kasus di India mengindikasi adanya penularan antar manusia, sehingga patut menjadi perhatian penting dalam pengendalian penyakit menular di dunia.
- Banyak negara telah melakukan kewaspadaan khusus, seperti Nepal, dan Taiwan dengan melakukan skrining di bandara Internasional, mengkategorikannya sebagai penyakit jarang yang kini muncul “emerging”, juga memberikan peringatan bagi warganya yang akan bepergian ke luar negeri.
- Banyaknya kunjungan warga India ke Indonesia maka diperlukan pengamatan khusus. Setidaknya bagi mereka yang datang dari daerah dimana virus ini berada, seperti daerah Kalkuta dan Benggala Barat.
- Indonesia sebaiknya juga waspada dengan mengikuti perkembangan penularan yang ada baik di India maupun negara tetangga lainnya.(*)
BACA JUGA:Virus HMPV Telah Terdeteksi di Indonesia, Menkes: Bukan Virus Mematikan
BACA JUGA:Virus hMPV Terdeteksi di Malaysia, Indonesia Harus Siap Siaga
*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: