HARIAN DISWAY - Angka kelahiran di Indonesia pada 2026 menurun. Hal itu kembali menjadi sorotan. Fenomena tersebut memicu diskusi luas di ruang publik.
Terutama terkait munculnya gaya hidup childfree. Atau pilihan untuk tidak memiliki anak. Bahkan sedang menjadi tren di kalangan pasangan muda.
Tapi apakah childfree menjadi penyebab penurunan angka kelahiran? Atau dipicu faktor lain yang lebih kompleks?
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai indikator kependudukan menunjukkan perubahan pola kehidupan keluarga.
BACA JUGA:Marissa Anita Gugat Cerai Andrew Trigg Usai 17 Tahun Menikah, Karena Childfree?
BACA JUGA:Dampak Childfree di Jepang: Kebanyakan Manula, Minim Bayi
Pasangan muda cenderung menunda pernikahan dan menunda kehamilan. Bahkan secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak.
Childfree pun kerap menjadi topik yang paling disorot di media sosial. Para pengamat menilai fenomena itu tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang terjadi secara bersamaan.
Perubahan Prioritas Generasi Muda
Generasi muda Indonesia saat ini tumbuh dalam kondisi yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Akses pendidikan yang lebih luas, urbanisasi, serta tuntutan karier. Membuat banyak pasangan memprioritaskan stabilitas finansial dan pengembangan diri. Itu yang hendak dicapai sebelum membangun keluarga.
BACA JUGA:Heboh Isu Childfree Gitasav, Begini Tanggapan Wapres Ma'aruf Amin.
BACA JUGA:Tsamara Amany: Childfree Bukanlah Variabel Mutlak Awet Muda
Anak tidak lagi dipandang sebagai keharusan sosial. Melainkan sebagai pilihan hidup yang memerlukan kesiapan mental, ekonomi, dan emosional.
Bagi sebagian pasangan, keputusan untuk belum atau tidak memiliki anak bukan berarti menolak nilai keluarga. Tetapi lebih pada upaya menjaga kualitas hidup.
Mereka mempertimbangkan biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan dasar yang terus meningkat setiap tahun.