Sementara itu, Dr Probo Darono Yakti menyoroti aspek pelestarian seni tradisi. Menurutnya, terdapat dua aliran utama dalam proses pelestarian.
Pertama, konservasi. Yakni menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam jaranan dengan tetap membuka ruang inovasi. Kedua, invasi. Yaitu upaya menyebarluaskan kesenian ke tengah masyarakat.
Ia menjelaskan, saat ini berbagai platform pendukung kesenian telah disatukan dalam satu sistem melalui Dana Indonesiana.
Baik perseorangan maupun kelompok seni dapat mengajukan dana abadi kebudayaan tersebut. Demi mendukung kemajuan seni tradisi.
BACA JUGA:Hartono Leke, Kisah Maestro Tari Bujang Ganong (1): Cinta Reyog Sejak 1975
BACA JUGA:Di Balik Topeng Singo Barong: Ironi Kesejahteraan Penjaga Tradisi Reog
“Perlindungan dan pemanfaatan kebudayaan pada dasarnya mengikuti kerangka UNESCO. Setiap kabupaten, kota, dan provinsi diminta menetapkan warisan budaya benda maupun takbenda. Yang paling penting setelah itu adalah menjaga keberlanjutannya,” kata Probo.
Ia juga menekankan pentingnya rejuvenasi jaranan di Sidoarjo. Para senior pelaku jaranan diharapkan terus menuntun generasi muda. Supaya kesenian itu tetap lestari.
Menurutnya, ruang budaya akan “berbicara” ketika ada yang muncul sebagai penggerak. Juga rasa memiliki dari para pelaku seni.
Sarasehan Jaranan di Gedung Dekesda Art Center, Dewan Kesenian Sidoarjo, menghadirkan dua narasumber: Ki Subiantoro dan Dr. Probo Darono Yakti.-Dekesda-
Peran lembaga kebudayaan seperti Dewan Kesenian Sidoarjo dan lembaga-lembaga seni-budaya lain dinilai sangat penting untuk membangun narasi seni tradisi.
BACA JUGA:Majelis Zikir Surau Qutubul Amin (SQA) Mendoakan Monumen Reog Ponorogo Mendunia
BACA JUGA:Grebeg Suro 2025: Festival Reog Ponorogo Meriahkan Tradisi Leluhur
Terutama dalam menghadapi stigma atau benturan antara tradisi dan agama. “Melawan stigma itu dengan narasi. Bahwa dalam sejarah, kesenian justru menjadi bagian dari proses dakwah dan penyebaran nilai-nilai agama,” ujarnya.
Probo juga mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam konservasi jaranan. Termasuk melalui kolaborasi digital dan media sosial.
Menurutnya, generasi muda sebagai digital native dapat membantu promosi, inovasi, dan perluasan jejaring agar jaranan tetap relevan.