“Kerukunan dan konsolidasi itu kunci. Seni tradisi sering bergulat dengan ego. Padahal, negara-negara lain seperti Tiongkok, Korea, hingga Rusia maju karena konsisten menjaga tradisinya,” ujar dosen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga itu.
BACA JUGA:Pancasila sebagai Roh Pembangunan dan Identitas Bangsa: Refleksi dari Tanah Reog
BACA JUGA:Dari Reog ke Robot Angklung: Inovasi Menjaga Warisan Budaya di Era Digital
Ia pun menambahkan bahwa mengelola keberagaman budaya Indonesia membutuhkan orkestrasi besar. Melibatkan banyak pihak. Termasuk pemerintah.
Sarasehan Jaranan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat koordinasi. Pun, menyusun strategi bersama untuk memastikan seni jaranan tetap hidup, berkembang, serta bermakna bagi generasi masa kini dan mendatang. (*)