PERMENDIKTISAINTEK Nomor 39 Tahun 2025 merupakan peraturan baru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mengatur penjaminan mutu pendidikan tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, regulasi itu mulai direspons kampus dengan berbagai upaya pembenahan.
Dokumen diperbarui, standar dirapikan, dan mekanisme evaluasi disempurnakan. Namun, satu pertanyaan penting masih menggantung: apakah mahasiswa bisa hadir dalam proses itu tanpa terus menjadi penonton?
Mutu pendidikan tinggi hampir selalu dibicarakan atas nama mahasiswa. Dalam dokumen, mereka disebut sebagai pusat pembelajaran. Bahasa kerennya student-centered learning (SCL). Dalam sambutan, mereka dijanjikan pengalaman belajar terbaik. Namun, dalam praktik sehari-hari, banyak mahasiswa yang justru merasa hanya menonton.
BACA JUGA:Lagi, Kuota Internet Hangus Digugat Uji Materi ke MK oleh Mahasiswa
BACA JUGA:Demo Mahasiswa Bukti Gen Z Bukan Generasi Apatis
Mereka hadir di kelas, mengisi survei, dan mengikuti kurikulum. Namun, jarang benar-benar diajak bicara tentang bagaimana pembelajaran dijalankan. Mutu berjalan di atas kepala mereka, bukan bersama mereka.
Di kampus, mutu sering diukur lewat indikator mutu yang rapi. Capaian pembelajaran ditulis jelas, standar dievaluasi rutin, laporan disusun lengkap. Namun, pertanyaan sederhananya jarang diajukan: apa yang benar-benar dialami mahasiswa di ruang kelas?
Bagi banyak mahasiswa, ruang kelas sering tidak selalu sejalan dengan janji di dokumen. Metode belajar monoton, diskusi minim, dan umpan balik nyaris formalitas. Mereka hadir secara fisik, tapi absen secara makna.
BACA JUGA:Astroturfing Digital, Musuh Paling Baru Gerakan Mahasiswa
BACA JUGA:Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas
Fenomena itu bukan sekadar soal selera belajar. Ia berkaitan dengan cara kampus memandang mahasiswa: sebagai objek sistem, bukan subjek pembelajaran. Mutu diurus oleh struktur, sedangkan mahasiswa cukup hadir dan mengikuti.
Dalam kajian pada perguruan tinggi, persoalan itu sudah lama disorot. Salah satu teori penting datang dari Alexander W. Astin melalui student engagement theory.
Dalam bukunya, What Matters in College? Four Critical Years Revisited (1993), Astin menegaskan bahwa mutu pendidikan tidak ditentukan oleh fasilitas atau kebijakan semata, tetapi oleh tingkat keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar.
BACA JUGA:Kegelisahan Mahasiswa Semester Tua dan Overdosis Informasi
BACA JUGA:Ketika Mahasiswa IPB Ingin Cepat Kaya