Muslim dan Wajah Korupsi

Rabu 04-02-2026,10:10 WIB
Oleh: Bambang Prakoso*

Dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu diduga menerima uang Rp4,5 miliar dari kedua sumber tersebut.  Ia dijatuhi vonis lima tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan penjara. Guru besar di bidang tafsir hadis itu juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara Rp2 miliar subsider satu tahun penjara.

Islam mendapatkan ujian kembali dari pemeluknya sendiri. Ujian pertama dinilai menggali kemunduran karena adanya sikap kurang demokratis kalangan ulama mazhab yang menutup gerbang ijtihad. Kedua, mengenai isu kebangkitan Islam yang belum menjamah substansinya. 

Artinya, masalah kuantitas umat dan baju yang menutupinya tergesa-gesa menilai sebagai keidealan yang harus ditonjolkan, sementara idealisme Islam kurang memperoleh sentuhan secara kritis.

Seorang ulama besar dari India, Abu A’la Al-Maududi, mengingatkan bahwa sekarang manusia di mata manusia tampak sebagai tertuduh. Kaum ateis menggunakan kedok agama, Sedangkan keturunan Adam terpecah belah dalam berbagai golongan yang begitu banyak. 

Tiap-tiap golongan merasa paling benar dan berpahala menggunakan segala tipu muslihat, kezaliman, permusuhan, khianat, cara apa pun ditempuh demi keuntungan golongannya sendiri.

Jika dilihat dalam konteks masyarakat berbangsa sekarang ini, masih begitu relevan apa yang dikatakan oleh Maududi. Dengan mata telanjang, kita dapat melihat orang yang fasih melafazkan dan memahami tekstualisasi ayat-ayat Al-Qur’an, hadis nabi, dan kaidah-kaidah hukum Islam, aktif dalam kegiatan tahlil, kesenian yang bernapaskan Islam, serta organisasi sosial yang religi. 

Di satu sisi, orang tersebut kesehariannya bergumul dan aktif membentuk pola hidup yang sangat kontras dengan agama, misalnya, judi, korupsi uang jamaah haji atau hak anak yatim-piatu, baik secara personal maupun komunal, mengamputasi kesempatan karier orang lain dan seterunya.

Banyak umat Islam yang gagal membaca secara kontekstual jenis umat berwajah ganda atau berpribadi parsial. Mereka berorasi di podium atau mimbar, tampak seperti malaikat, tampak nresnani pepodo, manis bicaranya, tapi di sisi lain substansi psikologisnya meneguhkan pribadi ”bajingan” (homo homoni lupus). 

Agama dijadikan tameng magnet legitimasi publik, kredibilitas sosial dan popularitas semata, meniadakan keseimbangan intelektual, spiritual, dan estetika. (*)

*) Bambang Prakoso adalah dosen ilmu perpustakaan, FISIP, UWKS, dan pengurus ICMI Jawa Timur.

Kategori :