Cara Menjawab Pertanyaan Jebakan tentang Skill AI Di Depan HRD

Jumat 06-02-2026,12:00 WIB
Reporter : Salwa Igusta Azzhro*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

HARIAN DISWAY - Tahun 2026, wawancara kerja tak lagi hanya soal IPK, pengalaman organisasi, atau pertanyaan klise tentang kelebihan dan kekurangan diri.

Ada satu pertanyaan yang kini makin sering muncul. Bahkan kerap menjadi jebakan halus HRD. Yakni soal penguasaan kecerdasan buatan.

Pertanyaan, “Sejauh mana Anda menguasai AI?” terdengar sederhana. Namun, salah menjawabnya bisa berdampak besar. Peluang kerja bisa langsung melayang sebelum wawancara benar-benar berakhir.

Pada era sekarang, AI bukan lagi nilai tambah. Bagi HRD, kemampuan menggunakan AI sudah menjadi standar. Layaknya Microsoft Excel di tahun 2010-an.

BACA JUGA:Dampak Ledakan Teknologi Agentic AI, 5 Pekerjaan ini Paling Dicari di 2026

BACA JUGA:9 Pekerjaan Penuh Tekanan pada 2026 Berdasarkan Studi Terbaru

Penggunaannya pun meluas. Tidak hanya di perusahaan teknologi, tetapi juga media, keuangan, pendidikan, hingga UMKM berbasis digital.


Ilustrasi surat lamaran Pekerjaan yang di lihat pertama kali oleh HRD bukanlah IPK melainkan pengalaman.-(Pixabay)-

Banyak pelamar masih menjawab terlalu polos. Mengaku bisa memakai ChatGPT, pernah mencoba AI untuk tugas, atau masih belajar AI. Jawaban itu memang aman. Tetapi tidak cukup menjual.

HRD sejatinya tidak sekadar ingin tahu apakah pelamar mengenal AI. Yang diuji adalah: bagaimana AI digunakan, sejauh mana teknologi itu membantu produktivitas, serta apakah kandidat memahami batas etika dan risikonya.

Jebakan pertama muncul ketika pelamar mengaku mahir AI tanpa contoh nyata. Klaim besar tanpa bukti justru menjadi blunder klasik di 2026. HRD hampir pasti akan bertanya tentang AI apa yang digunakan. Dan untuk keperluan apa AI itu digunakan.

BACA JUGA:5 Rekomendasi Pekerjaan Freelance yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga

BACA JUGA:Ingin Bekerja dari Rumah? Ini 6 Pekerjaan Freelance yang Bisa Dicoba

Jawaban yang lebih aman adalah menjelaskan fungsi spesifik AI. Misalnya, digunakan untuk riset awal, menyusun kerangka kerja, atau membantu analisis data. Penting pula menegaskan bahwa hasil akhir tetap divalidasi dan dikembangkan sendiri.

Jebakan berikutnya datang dari sikap terlalu defensif. Seperti mengaku jarang memakai AI karena takut melanggar etika. Itu bisa dibaca HRD sebagai orang yang kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kategori :