Onkoseno: ”Kemudian, tersangka menuangkan rebusan air teh campur kapur barus tadi ke dalam mug. Lalu, dimasukkan pula racun tikus ke dalamnya. Diaduk.”
Dengan membawa mug dan sendok, Syauqi mendatangi kamar para korban. Ia lalu mencekoki para korban, satu per satu, dengan cairan itu. Caranya, mulut para korban dicangap (buka paksa) lalu dimasuki sendok isi racun.
Selanjutnya, Syauqi bikin sandiwara. Unik. Ia menyulut kembang api yang dibawanya dari tempat kerja. Saat disulut, diarahkan ke badannya sendiri.
Kembang api meluncur menabrak badan Syauqi. Memantul. Meliuk-liuk di dalam rumah kemudian meledak. Badan Syauqi luka bakar. Terus, ia pilih tempat di kamar mandi untuk pingsan.
Apa motifnya?
Onkoseno: ”Menurut tersangka, ia merasa dianaktirikan. Ia mengaku sering dimarahi ibunya. Tapi, kami mendalami lagi motifnya.”
Merasa dianaktirikan dan sering dimarahi. Memang, empat-lima jam menjelang akhir hidup Siti, dia memarahi Syauqi. Itulah kenangan akhir. Apakah ibunda salah?
Dikutip dari BBC News, 11 Agustus 2023, berjudul The lifelong effects of ”the favourite child”, karya Debra Dennett, diungkapkan soal anak kesayangan (the favourite child) ortu. Juga, kebalikannya, anak yang kurang disayang ortu.
Menjadi ortu sesungguhnya sangat sulit. Kalau mau menjadi ortu ideal. Sempurna. Namun, banyak orang cuma ingin punya anak, tanpa paham konsekuensi kesulitannya. Setelah paham pun, banyak yang mengabaikan konsekuensi itu.
BBC mengulas, sebagian besar ortu tidak akan mengakui ada the favourite child. Jika para ortu ditanya, pasti menjawab, semua anak diperlakukan sama. Atau, mereka berusaha memperlakukan sama.
Walaupun dalam hati, ada ortu yang mengagumi salah satu anak. Secara tak disadari. Ada pula yang memberikan perhatian lebih kepada anak sulung. Karena sejarah. Si sulung itulah yang membuat ortu, untuk kali pertama, dipanggil mama dan papa. Yang pertama pasti berkesan.
Ketidakadilan itu disebut parental differential treatment (PDT). Membeda-bedakan anak. Atau, pilih kasih.
BBC menyebutkan, Prof Laurie Kramer, guru besar psikologi terapan di Northeastern University, AS, menyatakan, hal itu bersifat subjektif. Bergantung sudut pandang orang.
Kramer: ”Anak merasa kurang disayangi bersifat subjektif. Bisa jadi memang benar. Bisa pula ortunya tidak menyadari. Bisa, ada suatu peristiwa kecil di suatu waktu yang membuat salah satu anak berpikir ia kurang disayangi. Bisa juga ortu punya alasan rasional untuk memperlakukan salah satu anak.”
Dilanjut: ”Itu adalah pengalaman orang-orang, bahwa orang tua mereka dianggap lebih menyukai anak lain daripada mereka. Ini bisa dengan memberikan lebih banyak waktu, perhatian, pujian, atau kasih sayang. Mungkin juga dengan mengurangi kontrol sehingga mereka dapat menikmati lebih sedikit batasan, lebih sedikit disiplin, atau bahkan hukuman, dibandingkan anak lainnya.”
Menurut Kramer, kebanyakan ortu tidak sengaja lebih menyayangi, atau kurang menyayangi, salah satu anak. ”Perlakuan istimewa mungkin karena satu anak lebih mudah diasuh, ortu mungkin lebih dekat dengan anak itu, melihat kesamaan antara mereka dan anak tersebut,” katanyi.