Suasana main kitchen Le Brassa saat dikunjungi Harian Disway pada Rabu, 11 Februari 2026 di Universitas Ciputra-Adinda Rahmatanti-
Sehingga output yang didapatkan: mampu menguasai seluruh aspek operasional restoran. Dinamika operasional di lapangan pun dirasakan langsung oleh para mahasiswa.
"Operasional restoran itu seluruhnya kami yang running," ujar Keyra Titania Maharani, mahasiswi yang menjabat sebagai Human Resources Le Brassa.
BACA JUGA:108 Kampus Ikut Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia di Universitas Ciputra
BACA JUGA:Tim Dosen Universitas Ciputra Rilis Buku Penguatan Identitas Kya-Kya di Surabaya
Selama masa operasional, dia bersama teman-temannya memulai persiapan restoran. Termasuk menyiapkan bahan sejak pukul 5 pagi.
Eunike Angelica Lim, mahasiswi yang menjabat sebagai General Manager Le Brassa, menyampaikan, "proses administrasi penutupan restoran per hari selesai pukul 7 malam."
Operasional restoran tidak lepas dari perencanaan strategis. Itu dipersiapkan oleh tim internal sejak jauh hari.
Hans William Utomo, mahasiswa yang menjabat Head of Marketing Le Brassa, menyebut bahwa timnya sudah melakukan perhitungan biaya. Juga rencana pemasaran dari semester 5.
BACA JUGA:Deretan Platform Penunjang Bisnis Kuliner, Salah Satunya Runchise
"Sudah siap semua. Sampai pada costing secara garis besar. Kami rancang sejak semester lalu. Jauh sebelum benar-benar membuka restoran ini," ujarnya.
Upaya keras para mahasiswa itu disambut antusias oleh para pengunjung. Salah satunya Ivan Satria Wiranata, mahasiswa UC yang sedang memesan menu salt bread siang itu.
Mahasiswa Culinary Business Universitas Ciputra juga menghadirkan berbagai macam menu pastry melalui Le Brassa-Adinda Rahmatanti-
"Konsep Western-French masih jarang diusung mahasiswa. Itu keunikannya. Sehingga banyak orang mampir ke restoran ini," ujarnya.
Melalui proyek restoran itu, para mahasiswa mengasah ketangguhan mental. Mereka dituntut untuk mengelola bisnis secara profesional.