Kerinduan Fisik di Era Digital

Selasa 17-02-2026,23:45 WIB
Oleh: Aniendya Christianna*

Makin dibaca, makin lecek buku. Namun, tak mengapa. Sebab, komunitas silent reading itu menghadirkan ruang bersama yang hening, tetapi terhubung secara fisik. Buku menyediakan struktur material yang memberikan batas awal dan akhir. 

Serupa dengan praktik koleksi blind box dan mainan dengan kemasan asli juga memperlihatkan keterlibatan tubuh dalam produksi makna. Kolektor membuka kotak secara bertahap dan merasakan sensasi taktil pada plastik pelindung atau karton kemasannya. Bahkan, banyak kolektor menyimpan kotak kemasan sebagai bagian dari nilai objek. 

Kemasan berfungsi sebagai elemen material yang memperkuat relasi antara subjek dan benda. Interaksi itu menunjukkan bahwa makna objek terbentuk melalui perjumpaan fisik yang konkret.

BACA JUGA:Konteks Baru Kata 'Menyala' di Era Digital

BACA JUGA:Cegah Pembunuhan Karakter di Era Digital

Apa lagi? Banyak! Ada pengguna kamera analog yang menunggu proses cuci film sebelum melihat hasil foto. Penulis surat tangan mengatur tekanan pena dan memilih jenis kertas. Seniman yang melukis dengan lengketnya cat minyak di atas kanvas. 

Komunitas boardgame berkumpul dalam ruang yang sama untuk berlomba dan lain sebagianya. Praktik-praktik itu menempatkan tubuh sebagai pelaku utama dalam pengalaman.

Kerangka Merleau-Ponty membantu menjelaskan kecenderungan tersebut. Ponty memandang tubuh sebagai entitas yang selalu berada dalam batas ruang dan waktu. Batas tersebut memungkinkan persepsi karena tubuh merasakan resistansi, jarak, dan durasi. 

Lingkungan digital cenderung mengurangi friksi (meminjam istilah fisika, sebagai gaya gesek) dan menghadirkan simultanitas/keseragaman yang membosankan. Akses instan mengaburkan perbedaan antara hadir dan tidak hadir. Kondisi tersebut mengubah pengalaman waktu dan ruang yang sebelumnya dialami melalui tubuh.

Kembalinya objek fisik dapat dibaca sebagai respons terhadap perubahan tersebut. Individu mencari pengalaman yang menghadirkan bobot dan tekstur. Praktik tersebut tidak menolak teknologi digital secara total. 

Praktik itu menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara pengalaman mediatif dan pengalaman indrawi langsung. Tubuh berfungsi sebagai penanda batas yang memberikan orientasi pada pengalaman.

Gagasan tentang mendengarkan tubuh memperoleh dimensi ontologis dalam konteks ini. Tubuh tidak hanya menandai kondisi kesehatan psikologis, tetapi juga menentukan cara manusia ”mengada” di dunia. 

Dunia yang makin imaterial tetap bergantung pada tubuh sebagai medium persepsi. Tubuh mengarahkan manusia pada pengalaman yang memiliki kedalaman dan sekaligus mengingatkan manusia pada keterbatasannya sendiri.

Kesadaran atas keterbatasan itulah yang kemudian menemukan gaungnya dalam refleksi yang ditulis Prihandari Satvikadewi bahwa ”jeda menjadi kata kunci” dalam menghadapi ekologi media yang makin cepat. 

Dia juga mengingatkan bahwa keberanian hari ini terletak pada kesanggupan untuk tidak selalu hadir dan tidak selalu cepat. Dua pernyataan itu menjadi renungan bagi kita bahwa tubuh tetap menjadi pemandu manakala media terus berlari melampaui batas ritme manusia. (*)

*) Aniendya Christianna, dosen desain komunikasi visual, Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Kategori :