SELURUH pelaku usaha mikro yang didampingi tim dari Universitas Airlangga sesungguhnya bukan pemain baru dalam aktivitas ekonomi. Mereka semua semula adalah pemilik berbagai usaha yang berjalan dan berkembang sebelum bencana itu tiba-tiba menyergap.
Ketika banjir dan tanah longsor melindas semua yang mereka miliki, bisa dihadapi jika kemudian semua hilang dalam hitungan jam. Usaha mikro yang dibangun dengan susah payah akhirnya kini tinggal cerita.
Kami menyadari bahwa memulihkan kembali usaha mikro yang ditekuni masyarakat bukanlah hal yang mudah. Proses pemulihan usaha masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kerusakan fisik, tetapi juga oleh kapasitas sosial masyarakat.
Ketahanan komunitas menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pemulihan pascabencana (Kuhlicke et al., 2025). Selain itu, kami menyadari bahwa dampak bencana terhadap kesejahteraan ekonomi kelompok rentan seperti pelaku usaha mikro memerlukan intervensi yang bersifat holistik (Rahman et al., 2024).
BACA JUGA:Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (1): Memberdayakan Pelaku Usaha Mikro
Belajar dari pengalaman penanganan bencana yang dikembangkan di berbagai daerah, pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai aktor terbukti mampu meningkatkan keberlanjutan program pemulihan dan memperkuat modal sosial masyarakat (Aldrich & Meyer, 2015; Norris et al., 2008).
Dalam konteks ini, pengabdian masyarakat yang dilakukan Universitas Airlangga menjadi ruang integratif yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas sosial, sekaligus mendorong terciptanya ketahanan sosial-ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
KELOMPOK USAHA MIKRO
Dari hasil diskusi dengan sejumlah pelaku usaha mikro yang menjadi korban bencana di Aceh, kami mendapatkan informasi tentang realitas sosial-ekonomi yang memperlihatkan ketangguhan sekaligus kerentanan pelaku usaha mikro pascabencana banjir.
Kami berdiskusi dengan sedikitnya 25 pelaku usaha mikro yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Ulim, yang terdampak secara langsung oleh bencana tersebut.
Sebagian besar pelaku usaha mikro yang kita dampangi bergerak di sektor informal berbasis rumah tangga seperti penjualan kue basah dan kue kering, nasi bungkus, nasi pagi, mi caluk, lontong sayur, minuman, hingga usaha warung kopi.
Selain itu, terdapat pelaku usaha jasa dan produksi seperti penyewaan tenda, usaha menjahit, bengkel sepeda/motor, serta peternakan bebek petelur yang turut terdampak. Ragam jenis usaha itu menunjukkan bahwa ekonomi lokal sangat bertumpu pada aktivitas mikro yang fleksibel sekaligus rentan.
Dari data yang dipasok YAPPERA –mintra kerja kami di lapangan– diketahui mayoritas pelaku usaha mikro mengalami dampak pada kategori berat. Dampak tersebut tidak hanya berupa kerusakan fisik pada tempat usaha dan peralatan, tetapi juga terganggunya rantai pasok, hilangnya bahan baku, serta menurunnya jumlah pelanggan akibat kondisi pascabencana.