Nasrun diadili. Ia dijerat Pasal 338 KUHP (lama) pembunuhan. Di pengadilan sempat terjadi perdebatan antara jaksa dan penasihat hukum. Jaksa menuntut Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana, ancaman maksimal hukuman mati.
Saat sidang, Harsalena selalu hadir di persidangan. Dalam suatu sidang, Harsalena meminta hakim agar Nasrun dihukum ringan. Harsalena bicara lantang di depan majelis hakim.
Hakim bertanya, mengapa? Terdakwa kan terbukti selingkuh sampai selingkuhan hamil, lalu dibunuh?
Harsalena: ”Iya, Pak Hakim. Ia (Nasrun) selalu berbuat baik dengan keluarga. Ia sekarang tinggal menikmati hari tua. Kasihan ia. Saya yakin, suami saya tidak ada niat membunuh. Saya yakin tak ada niat, Pak… Saya minta ia dihukum ringan.”
Harsalena mantan dosen. Belakangan ia membuka kursus bimbingan belajar di rumahnyi. Banyak muridnyi.
Akhirnya, Nasrun divonis 15 tahun penjara. Ia naik banding. Hasilnya, Pengadilan Tinggi Pekanbaru, Riau, menjatuhkan hukuman 16 tahun penjara. Nasrun menjalani hukuman.
Ia dinilai berkelakuan baik selama jadi narapidana. Sering dapat remisi. Semestinya ia bebas penjara setidaknya tahun 2034. Namun, karena kelakuan baik, ia bebas bersyarat 27 Agustus 2025. Banyak sekali ”bonusnya”.
Kini polisi belum menetapkan pasal terhadap tersangka. Jika terbukti pembunuhan berencana, hukumannya sangat berat.
Mengapa bekas pembunuh kini jadi terduga pembunuh?
Dikutip dari CNN, 24 Juli 2023, berjudul What causes someone to become a serial killer? It’s a malignant combination of factors, experts say, karya Alaa Elassar, dipaparkan hasil wawancara dengan beberapa pakar ilmu kejahatan. Tentang kejahatan berulang.
Prof Louis Schlesinger, guru besar psikologi forensik di John Jay College of Criminal Justice, menyatakan, pelaku pembunuhan berulang atau pembunuhan berantai sering diteliti banyak pakar. Namun, penyebab pembunuh berantai, pendapat para ahli beragam.
Ada yang menyatakan, itu akibat masa kecil pelaku yang suram. Diabaikan ortu, dihina, dilecehkan, atau sering dianiaya. Pakar lain menyatakan, pembunuh memang bakat membunuh. Banyak anak-anak yang diabaikan di masa kecil, setelah dewasa tidak jadi pembunuh.
Schlesinger: ”Kebanyakan orang ingin mencari peristiwa penting dalam kehidupan seseorang yang dapat menjelaskan perilaku ini. Itu sifat manusia, itu kecenderungan alami, ia melakukannya karena ibunya melakukan kekerasan terhadapnya. Ia melakukannya karena peristiwa traumatis ini terjadi.”
Tetapi, lanjutnya, hal-hal itu bukanlah faktor penentu yang menciptakan seseorang yang pergi keluar dan membunuh atau membunuh untuk kepuasan seksual secara beruntun. Ribuan orang memiliki masa kecil yang mengerikan. Mereka tidak jadi pembunuh.
Ditanya, apakah semua pembunuh berantai adalah pembunuh berantai seksual?
Schlesinger: ”Ada perbedaan besar antara seseorang yang melakukan ini untuk kepuasan seksual, seperti Ted Bundy, BTK, Boston Strangler, Jack the Ripper. Mereka adalah pembunuh berantai seksual. Tapi, pembunuh berantai tidak harus seksual.”