BACA JUGA:Stagnasi Indeks Demokrasi Jawa Timur
GULA PEMANIS BERNAMA JANJI
Rasa manis menjadi kunci produk sasetan. Pahit sedikit, konsumen lari. Demokrasi sasetan juga demikian. Janji politik harus manis. Harus bombastis. Gratis merupakan kata paling laku dijual. Pendidikan gratis. Kesehatan gratis. Makan siang gratis. Semua serbagratis.
Warga bersorak girang. Jarang ada yang bertanya uangnya dari mana?
Negara bukan pesulap yang bisa memunculkan uang dari balik topi. Uang negara menjadi uang pajak. Uang rakyat sendiri. Ketika janji manis tersebut ditagih, anggaran negara jebol. Defisit melebar. Utang menumpuk.
Namun, hal tersebut urusan nanti. Urusan pejabat periode berikutnya. Bagi calon pemimpin ke depan, yang penting suara bakal diraih sekarang.
Situasi tersebut menciptakan ilusi kesejahteraan. Seolah-olah negara sangat kaya raya. Padahal, fondasi fiskal sedang keropos. Gula pemanis tersebut menutupi rasa pahit yang sebenarnya. Industri manufaktur sedang lesu. Lapangan kerja formal menyusut. Sektor informal yang rentan justru membesar.
Namun, karena lidah rakyat sudah terbiasa dengan manisnya subsidi, rasa pahit tersebut tersamarkan. Bahaya diabetes ekonomi mengintai. Gula darah negara naik drastis. Komplikasi penyakit siap menyerang kapan saja.
EFEK KEMBUNG DAN BEGAH
Minum kopi saset kebanyakan pasti bikin perut kembung. Kembung merupakan sensasi kenyang yang palsu. Perut terasa penuh gas, bukan penuh nutrisi. Demokrasi sasetan menghasilkan efek serupa.
Pembangunan infrastruktur fisik memang terlihat masif. Jalan tol berderet. Bandara baru bermunculan. Gedung pemerintahan megah berdiri. Secara visual, negara tampak maju. Kenyang.
Namun, coba periksa dompet kelas menengah. Kosong. Daya beli merosot. Cari kerja susah. Hal tersebut pertanda ekonomi sedang kembung. Terlihat besar dari luar, tetapi kopong di dalam.
Pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan ternyata tidak berkualitas. Angka statistik bisa dipermak, tetapi perut lapar tidak bisa dibohongi.
Rasa kembung juga terasa di ruang publik. Kebebasan berpendapat terasa sesak. Kritik dianggap gangguan. Oposisi dianggap musuh. Demokrasi prosedural memang berjalan. Pemilu ada. Partai ada. Namun, substansinya menguap.
Yang tersisa hanya cangkang kosong. Lembaga demokrasi ada, tetapi fungsinya macet. Check and balances tidak jalan karena semua pihak sibuk berebut kue kekuasaan. Semua ingin jatah sasetan.
SAMPAH PLASTIK PERADABAN