Demokrasi Sasetan: Murah, Instan, tetapi Bikin Kembung

Jumat 27-02-2026,22:12 WIB
Oleh: Teddy Afriansyah*

Produk sasetan meninggalkan masalah lingkungan yang serius seperti menumpuknya sampah plastik. Bungkus bekas yang berserakan susah terurai. Butuh ratusan tahun untuk hancur. Demokrasi instan juga meninggalkan residu sampah peradaban. 

Polarisasi masyarakat menjadi sampah tersebut. Kebencian antarkelompok yang dipelihara demi suara pemilu, yaitu limbah beracun.

Residu tersebut tidak gampang hilang. Tetangga saling curiga. Keluarga bertengkar di grup WhatsApp. Semua gara-gara fanatisme buta kepada tokoh politik yang sebenarnya cuma peduli pada citra. Tokoh-tokoh tersebut datang dan pergi, tetapi kerusakan sosial yang ditinggalkan bakal awet.

Pendidikan politik yang buruk juga menjadi sampah. Warga diajari menjadi pengemis kebijakan, bukan partisipan aktif. Warga diajari menadahkan tangan, bukan mengepalkan tangan untuk bekerja. 

Mentalitas wani piro (berani bayar berapa) dalam setiap kontestasi politik menjadi bukti nyata kerusakan moral. Suara rakyat dihargai murah. Seharga paket sembako atau amplop berisi beberapa lembar uang biru. 

Setelah itu, rakyat ditinggalkan. Sampah plastik demokrasi tersebut menumpuk, menyumbat saluran aspirasi, dan akhirnya bikin banjir masalah sosial.

KEMBALI MERACIK KOPI TUBRUK

Dalam konteks negara, kopi tubruk merupakan kebijakan yang jujur. Pemimpin harus berani bilang bahwa ekonomi sedang sulit. Bahwa tidak semua hal bisa gratis. Bahwa kemajuan butuh kerja keras, bukan mantra simsalabim. 

Pembangunan sumber daya manusia merupakan proses menyeduh kopi tubruk. Hasilnya tidak terlihat besok pagi. Butuh satu generasi untuk melihat hasilnya.

Pendidikan harus dibenahi dari akar. Karakter jujur dan kerja keras harus ditanamkan ulang. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. 

Hal tersebut merupakan semua proses yang melelahkan dan tidak populer. Tidak ada gunting pita. Tidak ada tepuk tangan meriah yang instan. Maka, itulah satu-satunya jalan menuju kemajuan yang sehat.

Warga juga perlu berhenti menuntut hal yang instan. Jangan minta pemimpin yang bisa menyulap nasib dalam semalam. Pilihlah pemimpin yang menawarkan peta jalan, bukan yang membagikan jajan. 

Kesadaran publik menjadi kunci utama. Jika permintaan akan politik sasetan berhenti, pabrik politik pun bakal berhenti memproduksinya.

Demokrasi bukan mi instan yang siap santap dalam tiga menit. Demokrasi merupakan pohon jati. Tumbuhnya lama. Perlu dirawat, disiram, dan dijaga dari hama. Namun, sekali tumbuh besar, bakal kokoh menaungi anak cucu. Kayunya kuat menahan badai. 

Jangan sampai mewariskan tumpukan bungkus saset kosong kepada generasi mendatang. 

Mari buang sasetnya, mulailah menumbuk biji kopi yang sebenarnya. Pahit sedikit tidak masalah, asalkan menyehatkan akal sehat bangsa. (*)

Kategori :