HARIAN DISWAY - Bulan Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana ibadah yang lebih khusyuk. Tetapi juga menguatkan tradisi sosial di tengah masyarakat.
Salah satu kebiasaan yang masih lestari di berbagai daerah di Indonesia adalah tradisi “list takjil” per rumah.
Yakni sistem pembagian jadwal bagi warga. Mereka yang kebagian giliran akan menyediakan hidangan berbuka puasa. Baik di masjid atau musala secara bergiliran.
Tradisi itu biasanya dikoordinasikan oleh pengurus RT, takmir masjid, atau tokoh masyarakat setempat.
BACA JUGA:Ajak Anak-Anak Berbuka Puasa, Ajarkan 4 Kata Ajaib dan Pembiasaan 5S
BACA JUGA:Resep Es Jeli Susu Kekinian, Minuman Segar Simpel untuk Buka Puasa
Menjelang Ramadan, daftar nama kepala keluarga akan disusun. Lengkap dengan tanggal tugas masing-masing.
Setiap rumah mendapat giliran satu hari untuk menyiapkan takjil. Termasuk bagi jamaah yang berbuka di masjid. Bagi warga, sistem bergiliran itu dinilai lebih adil dan ringan.
Dari satu rumah ke rumah lain, berkah mengalir lewat takjil sederhana yang dibagikan dengan tulus..-Boy Slamet-Harian Disway
Dengan adanya jadwal yang jelas, beban penyediaan takjil tidak hanya ditanggung oleh segelintir orang. Semua warga turut berkontribusi sesuai kemampuan.
Menu yang dibawa pun tidak harus mewah. Seperti kolak, es buah, gorengan, hingga kurma dan air mineral.
BACA JUGA:Buka Puasa Ramadan 2026 dan Adab yang Sering Terlupakan
BACA JUGA:Berbuka Puasa dengan yang Manis, Mitos atau Fakta?
Itu sudah cukup untuk menjadi bagian dari kebersamaan berbuka puasa. Esensi tradisi itu untuk mempererat hubungan sosial antarwarga.
Momen mengantar takjil ke masjid sering kali menjadi ajang silaturahmi. Anak-anak ikut membantu.