Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

Selasa 03-03-2026,19:30 WIB
Reporter : Dhahana Adi Pungkas*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

BACA JUGA:Musisi Apresiasi Terobosan DJKI Perkuat Transparansi Royalti Musik

Pendekatan itu penting. Karena menjaga musik tetap sebagai pengalaman. Bukan sekadar pajangan.

Namun, tantangan berikutnya adalah memperdalam narasi interpretatif. Tanpa itu, museum mudah terjebak menjadi ruang nostalgia semata.

MMI juga menyimpan koleksi internasional—sekitar 30 persen pada fase awal—yang menunjukkan jejaring global selera musik lokal.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa fungsi MMI melampaui penyimpanan. Museum itu menjadi tujuan belajar bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah. Bahkan peneliti mancanegara.

BACA JUGA:Jungwoo NCT Debut Musikal, Member NCT 127 Kompak Beri Dukungan!

BACA JUGA:Dukung Palestina, Paramore Tarik Semua Lagu dari Platform Musik Israel

Sebelum pandemi, kunjungan tahunan berkisar 2.000-3.000 orang. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi. Tetapi juga dapat memutar piringan hitam dan mencoba alat musik.

Praktik interaktif itu penting secara antropologis. Karena menjaga dimensi performatif musik.

Godaan Digitalisasi

Seperti banyak institusi arsip lain, MMI juga bergerak ke arah digitalisasi. Langkah itu penting. Tetapi ada risiko.

Seiring perkembangan zaman, pria yang kerap memakai bandana itu juga memberikan catatan kehati-hatian tentang digitalisasi. Yang menurutnya jangan sampai hal itu berhenti menjadi sekadar file.

BACA JUGA:Jazz Traffic Festival (JTF) 2025 Hadirkan Konser Musik Lintas Generasi, Ada Raisa Hingga Suara Kayu

BACA JUGA:IyaIya, Single Baru Whisnu Santika, Satir yang Menyelinap Lewat Irama Musik

Karena baginya, musik sebuah pengalaman. Ada bunyi piringan yang diputar. Ada rasa ruang. Itu semua harus tetap hidup.

Dari hal tersebut, seorang Hengki Herwanto ingin memperlihatkan kesadaran reflektif dirinya.

Yakni sebagai pelaku arsip menyikapi ketegangan antara preservasi teknologi dan pengalaman kultural.

Museum yang Perlu Tetap Bernyanyi

Kategori :