Kesadaran akan dimensi sosial arsip sangat terasa dalam penuturan Mas Hengki pada saya di 2014 lalu. Bahwa sejak awal ia tidak ingin museum itu terasa jauh ataupun berjarak dari publik.
Banyak koleksi datang bukan karena membeli. Tapi karena orang merasa punya ‘rumah’ untuk menyimpan sejarah musik mereka.
Sehingga pernyataan itu menegaskan fungsi sosial MMI sebagai ruang kepercayaan komunitas (trust-based archive).
BACA JUGA:Saluran Musik MTV Ditutup, Superfan Bangun Arsip 33 Ribu Video di Situs MTV Rewind
BACA JUGA:Livin’ Fest 2025 Surabaya 11-14 Desember: Hadirkan 400 UMKM, Konser Musik, dan Promo Besar Mandiri
Tak berhenti di situ, data lapangan menunjukkan bahwa MMI menyimpan rekaman dari era 1950-an hingga 2000-an. Mencakup semua genre. Dari tradisional hingga lagu anak-anak.
Selain produk rekaman, MMI juga mengoleksi alat musik tradisional. Seperti sasando dan gambang. Berdampingan dengan gitar dan drum.
Keberagaman itu penting. Karena mencerminkan pluralitas budaya musikal Indonesia.
Pun, menjembatani dikotomi tradisional vs populer dan membuka ruang narasi lintas generasi.
BACA JUGA:Forum ASEAN–Jepang, Menkum Supratman Usulkan Pertemuan Khusus Bahas Royalti Musik dan AI
Hal itu menegaskan bahwa arsip musik di MMI tumbuh dari relasi sosial, bukan sekadar logika koleksi. Namun, pekerjaan rumahnya tidak kecil.
Masalah terbesar bukan hanya menyimpan benda. Tapi menjaga ceritanya. “Kaset itu penting, tapi siapa yang mendengarkan dulu, di kota mana, itu sering hilang kalau tidak segera didokumentasikan”, ujarnya kala itu.
Di situlah kegelisahan klasik antropologi arsip muncul: risiko hilangnya konteks sosial di balik objek.
Antara Nostalgia dan Pengetahuan
Berbeda dari museum yang serba steril, pengunjung MMI masih bisa memutar piringan hitam atau mencoba beberapa alat musik.
BACA JUGA:Hari Angklung Sedunia 16 November, Momen Melestarikan Alat Musik Khas Indonesia